Dari Kingdom of Heaven : Balian, andai kau mau sedikit berubah

Filmnya tentu sudah lama dirilis, tahun 2005. Bercerita tentang seorang desa bukan siapa-siapa yang dalam sekejap menjadi Tuan bagi sekitar 100 prajurit. Pada giliran berikutnya, orang ini, Balian, terlibat dalam Perang Salib untuk mempertahankan Jerusalem setelah kewafatan Raja dari serangan Sultan Saladin. Di akhir kisahnya, ia dan Sultan menghasilkan kesepakatan dengan Sultan menguasai Jerusalem dan ia dengan ‘istri’nya – Ratu Acca – beserta semua penduduk lama Jerusalem dikawal sepanjang perjalanan sampai ke laut untuk kembali ke Eropa.

Ini bukan resensi. Hanya sedikit ‘gregetan’ terhadap salah satu tokohnya, tokoh utama pula, Balian. Memang namanya film tak lepas dari keadaan yang diskenariokan, dengan hasil akhir yang direncanakan dan telah diketahui. Apa pun reaksi kita setelah menontonnya pasti tidak bisa mengubah bagaimana sebuah film secara keseluruhan ditayangkan.

Jadi di mana greget saya ini berada? Awalnya dari sini. Diceritakan Reynald berulah, sehingga singkat kata Sultan pun marah ingin segera menyerang Jerusalem. Raja yang mengetahui reaksi Sultan tersebut memutuskan untuk mencegatnya untuk berunding sehingga peperangan akbar (benar-benar harafiah, lihat saja pasukan yang disiapkan di filmnya). Keduanya memang bertemu, saling mengajukan tawaran, dan akhirnya tercapai kesepakatan: perang batal. (bagi para fanatik, ini tentu kerugian besar. Jika ingin tahu siapa fanatik ini, silakan unduh filmnya di internet sebebasnya :mrgreen: ). Sesuai janjinya, Raja menghukum Reynold di kastilnya di Kerak, lalu dipenjara (anggaplah seumur hidup dengan kebangsawanannya dilucuti, dugaan saya). Guy sendiri akan segera dieksekusi karena Raja punya firasat kekuasaannya atas militer Jerusalem akan berdampak merusak (Raja merasa waktunya tidak lama lagi dan penggantinya adalah suami adiknya, yaitu si Guy itu sendiri. Sayangnya, nafsu berperang Guy difasilitasi dengan baik oleh Reynold yang sama fanatiknya).

Raja lebih suka Balian menggantikannya karena pertama ia adalah anak dari Godfrey, salah satu guru terbaiknya. Lalu, Balian pun menunjukkan citra yang baik karena berhasil membangun Ibelin yang gersang menjadi hijau gemah ripah loh jinawi 🙂 Ditawari demikian dengan pilihan menjadi suami Sybilla yang cantik kelak, sayangnya Balian malah memutuskan sebaliknya. ia hanya secara kaku mengingat pesan Raja bahwa semua orang harus bertanggung jawab atas perbuatannya kelak. Dan itu harus diketahui secara sadar. Jangan sampai mengatakan bahwa itu bukan kehendak kita, kita hanya diperintah, kita ingin menolak tapi tak kuasa, dan dalih-dalih semacamnya. Maka begitulah Balian. Ia merasa tidak ada keinginan apa pun terhadap Guy sehingga harus menghabisinya. Raja tak kuasa memaksanya dengan Tiberias membentaknya dan Sybilla menangisi keputusannya, tapi Ridley Scott sudah bilang, Bungkusssssss 😆 (if you know what I mean :mrgreen: ).

Balian terkesan terlalu kaku dengan sifat dan pilihannya sendiri. Cenderung egois, menurutku. ia seperti sudah mantap bahwa apa pun keputusan itu sudah pasti benar dan berdampak baik. Atau kasarnya, katakanlah Balian bermain aman, tidak mau diseret dalam suatu perbuatan yang menurutnya itu jelek – meskipun sebenarnya dampak baiknya lebih besar. Balian sedang menjaga citranya 😦 Harusnya ia teringat pesan Godfrey untuk menjaga perdamaian antara Raja dan Sultan. Menciptakan dunia yang lebih baik. Dan menjaga hubungan baik antara Muslim dan Kristen. Untuk tidak mengecewakannya. Ah lagi-lagi Ridley Scott udah bilang, it’s a wrap! aaaarrrgggghhhhhhhhhh 😈

Pada akhirnya, keputusan Balian itu diratapi oleh Sybilla, tidak semata-mata menuruti perasaan romantisnya yang jatuh cinta pada Balian, tetapi ia berpikiran yang sama seperti kakaknya. Itu semua terbukti ketika Jerusalem harus takluk dalam serangan berikutnya yang dilancarkan oleh Sultan Saladin yang lantas segera menguasainya melalui gencatan senjata dan kesepakatan.

7 comments on “Dari Kingdom of Heaven : Balian, andai kau mau sedikit berubah

  1. Pingback: sampai tetes keringat terakhir | dadot

  2. Pingback: Boeing 777 bukan pesawat jumbo jet, namun tetap jadi favorit maskapai penerbangan, selain seri 747 | ArDa

Comments are closed.