Ketika klub Eropa datang ke Indonesia

Telah santer kabar berhembus bahwa Chelsea, salah satu klub sepakbola kota London, akan mengadakan muhibah ke Indonesia dalam beberapa bulan mendatang. Kita semua tentu sudah maklum bahwa Chelsea pasti bukan klub pertama dari Eropa yang menyapa langsung penggemarnya di Indonesia. Dekat masanya dengan awal tahun ini saja AC Milan baru saja mengadakan laga persahabatan dengan tim Indonesia, meskipun pemain gaek-lah yang diturunkan kedua tim. Menengok lebih jauh ke belakang, sudah berderet-deret nama klub terkenal yang memuaskan dahaga para penggemar yang entah kenapa merasa bahwa melihat langsung lebih memuaskan ketimbang melihatnya via kotak kaca bernama televisi 😆

Harapan tinggi pun dilambungkan. Apalagi kalau bukan tentang prestasi sepakbola Indonesia bakal segera terangkat, menjauhi keterpurukan yang selama ini selalu menghantui seperti kutukan yang terus menyelimuti laksana salju abadi di Puncak Cartenz – berulang kali hanya menjadi juara kedua terbaik, padahal hanya di level ASEAN. Para pemain klub Eropa tersebut dianggap bertangan Midas, yang mungkin dengan menyentuhkan tangan mereka, mereka yang menyentuhnya akan langsung memiliki kualitas permainan yang mirip.

Memang beberapa klub Eropa yang pernah mendatangi Indonesia sudah berkomitmen, di antaranya dengan mendirikan sekolah sepakbola. Sepengetahuan saya, Real Madrid dan Arsenal telah melakukannya – mohon panjangkan daftarnya. Tapi jika menganggap bahwa kedua klub itu lebih menaruh perhatian pada sepakbola Indonesia, daripada klub lainnya, tentulah ini pandangan yang begitu picik.

Tidak ada niat, apalagi begitu mulia, selain tujuan dagang dan komersial. Menempuh perjalanan panjang teramat lama tak bergerak hanya statis di kursi pesawat hingga 12 jam bukanlah sebuah pengalaman menyenangkan jika harus melakukan kegiatan yang malah tidak menghasilkan balasan atau sekadar pemulihan bagi ketidaknyamanan di udara itu. Mereka butuh sesuatu. Mereka butuh uang. uang? (dengan aksen Will Smith yang kaget di Enemy of The State saat melihat Gene Hackman mengatakan tujuan sebenarnya mengadakan pertemuan dengan Jon Voight).

Yeap. Kata Meja (penyanyi, bukan benda berkaki empat atau lebih terbuat dari kayu ya :mrgreen:It’s all about the money. Mereka semua berbondong-bondong ke sini, bahkan sedikit mengabaikan cedera pemain jika pemain tersebut salah satu yang paling diinginkan, tentu karena benda yang selalu mengalami inflasi ini. Tidak ada yang lain. Mereka ke sini, diiringi gerutuan pelatih karena masa pemulihan harus dikorbankan untuk acara-acara promosi yang tidak mempercepat penyembuhan cedera, sepenuhnya untuk urusan dagang, melihat potensi pasar yang akan menjadi ‘ladang’ pengerukan uang demi kelangsungan klub itu sendiri. Paling kasat mata adalah berjualan kaos dan yang kasat mata biasanya adalah tentang hak siar. Lainnya adalah mengadakan pembicaraan bisnis dengan entitas bisnis yang entah memiliki nama cukup besar di negara tujuan perjalanan ini sehingga ‘berdagang kaos’ dan ‘berdagang nama besar’ relatif lebih mudah atau menawari promosi ‘gratis’ bagi perusahaan yang berniat melanglang buana ke seluruh dunia (siaran langsung kompetisi sepakbola Eropa merupakan yang tertinggi pemirsanya di antara tayangan olahraga lainnya).

Terlepas dari bagaimana niat awal sebuah tim Eropa datang ke Indonesia, negeri ini akan selalu menjadi tujuan pemasaran acara-acara yang menyedot perhatian penduduknya. Jadi jangan heran jika FIFA tidak pernah tegas untuk menghukum Indonesia seperti mereka pernah mengucilkan Nigeria.

5 comments on “Ketika klub Eropa datang ke Indonesia

  1. Indonesia merupakan market empuk buat industri sepakbola di luar mas,,
    banyak tim berbondong-bondong mampir kesini buat dapat untung sekaligus sebagai ajang promosi timnya., dulu valencia sempet kesini juga kan ya 🙂

    • kayaknya ngetes pasar tuh ya, mungkin gak cocok, jadi kesepakatan gak diterusin 😀

  2. Pingback: Boeing 777 bukan pesawat jumbo jet, namun tetap jadi favorit maskapai penerbangan, selain seri 747 | ArDa

  3. Pingback: Sukses Juventus Melaju Di Liga Champions Belum Bisa Menghapus Kenangan Buruk Juventini | ArDa

  4. Pingback: Kemenangan Marquez penuh barokah di Misano dan pelajaran penting untuk FBY | ARIF DADOT

Comments are closed.