Rencana ke Segara Anakan

Citra ingatan (mental image) terus terngiang dalam benak. Berulang-ulang seperti tak ada putusnya, ia terus saja menggodaku dengan gambaran-gambaran yang sukar untuk menolaknya. Sebuah godaan yang memang pantas langsung diterima. Tapi senantiasa digagalkan karena beberapa alasan, jangan pernah berpikir karena soal agama atau moralitas 😆

Yeahhh, sudah lama sekali ingin masuk hutan. Di tengah-tengah belantara modern yang tidak bisa menyisakan oksigen murni untuk dihirup, harus ada tempat sebagai pelarian yang nyaman. Tempat untuk mengganti semua kesumpekan yang selama ini diserap oleh segenap indera. Jika kita bicara konteks di Malang, Segara Anakan adalah salah satu pilihannya.

Nyaris berada di sana karena kepentingan komunitas, saya harus memendam rasa itu lebih lama lagi karena pertimbangan finansial. Kini rasa itu menyergap lebih dalam, menyandera seluruh sarafku agar hanya memikirkannya, sebuah ketidaknyamanan sensorik yang makin menguat manakala membaca laporan-laporan perjalanan wisata tentangnya.

Anda menjelajah hutan tropis, yang basah karena air hujan semalam, terantuk akar pepohonan tua yang licin karena ditumbuhi lelumutan, kepala terbentur dahan-dahan yang menjulur liar, menuruni tebing kecil yang begitu licin karena keliatan tanah tanpa humus, dengan bayaran akhir adalah pemandangan lautan serba biru dari Sendang Biru yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Ini benar-benar samudera yang tak bertepi. Bukan hanya di lagu.

Pertama, naik angkutan kota ke terminal Hamid Rusdi. Konon, angkot yang dipilih adalah jurusan Turen. Setiba di pemberhentian berikutnya, yaitu Turen itu, pilih jurusan Sendang Biru. Tapi jika menumpang angkutan semacam ini, harus menunggu sampai penuh dengan kenyataan tidak banyak orang yang bepergian ke sana. Nikmati saja kegerahan di dalam angkot menunggu ia melanjutkan perjalanan sampai di tempat yang eksotis ini.

Lebih praktis dan nyaman adalah dengan kendaraan sendiri.

Tapi pertanyaan terbesar dan paling penting adalah K A P A N ? :mrgreen:

3 comments on “Rencana ke Segara Anakan

  1. Pingback: Boeing 777 bukan pesawat jumbo jet, namun tetap jadi favorit maskapai penerbangan, selain seri 747 | ArDa

Comments are closed.