Menetaskan telor dengan Gixxer

wpid-Suzuki-Gixxer.jpg

Seiring dengan euforia pengenalan Gixxer di negeri sari sana, berseliweran pula informasi tidak resmi terkait dengan pabrikan induknya. Memang tidak lantas dipercaya sebagai orang dalam sendiri yang mengatakannya, tapi tidak ada salahnya merenungkannya.

Seperti salah satu komentar yang mampir di warung ini. Mandhegnya Suzuki tidak pernah menguntit Yamaha apalagi Honda ditengarai akumulasi dari perdebatan tiada akhir antara pihak prinsipal di Jepang sana dengan anak perusahaannya di sini yang bersentuhan langsung dengan pelanggan Indonesia-nya, mirip telor dan ayam; siapa yang duluan.

Suzuki Indonesia ingin desain lokal yang digunakan, sementara prinsipal ingin desain China dan/atau India yang digunakan terlebih dahulu, dan jika pangsa pasar Indonesia sudah meningkat dan terdongkrak barulah desain yang diinginkan yang dipakai. Tapi bagaimana mendongkrak penjualan kalau modelnya tidak pernah bisa revolusioner.

Mungkin gixxer bisa jadi jalan tengah atas perdebatan tak berujung itu. Biarkan saja desainnya ambil dulu dari India, untuk sementara di sini mengalah saja, tidak perlu sedih, mengingat histeria yang ditimbulkannya mulai kemarin begitu heboh. Histeria berarti antusiasme, dan bolehlah optimistis bahwa antusiasme itu berujung pada keputusan pembelian Gixxer nantinya, yang pada akhirnya rapor penjualan Suzuki di bulan-bulan mendatang tidak merah lagi. Mungkin jika sudah begitu, desain asli Indonesia diizinkan untuk diproduksi masal.

Advertisements

2 comments on “Menetaskan telor dengan Gixxer

Comments are closed.