Batasi bahan pangan, tingkatkan tindakan medis

Hampir seminggu telah berlaku sejak Gunung Kelud ‘berdehem’ di Kamis malam pekan lalu. Sejak saat itu, gelombang pengungsian seperti mengalir tiada henti. Beberapa wilayah terdampak parah akibat letusan Kelud ini termasuk Kab. Kediri, Blitar, dan (sebagian) Kab. Malang di sebelah barat yang bisa dibilang wilayah yang terakhir disebutkan ini berada tepat di balik punggung Kelud. Tanpa diminta, apalagi diperintah, berbagai lapisan masyarakat yang tak terdampak bahu-membahu meringankan beban para pengungsi.

Tidak butuh waktu untuk membuat sesuatu mencengangkan yang mengagumkan. Dalam waktu singkat timbunan bantuan logistik siap diedarkan, bukti bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya tidak melupakan fitrahnya. Itu semua dengan dana sendiri, tidak dengan menyerahkan proposal sumbangan terlebih dahulu, atau rapat paripurna anggota dewan yang pastinya butuh waktu “BERABAD-ABAD” untuk disetujui 😆

Ternyata selain bahan pangan dan pakaian layak bekas, para pengungsi itu butuh obat-obatan. Itu karena mereka sudah lama berada di pengungsian, dicegah untuk pulang (*bukan demi kunjungan presiden kemarin kan? mengingat status Gunung yang belum diturunkan. Berada di satu tempat, dikumpulkan bersama banyak orang rentan sekali menimbulkan penyakit. Ini wajar karena kondisi darurat sehingga dalam beberapa hal aspek kebersihannya tidak terjaga. Karena itu untuk donasi dan/atau sumbangan yang akan datang, atau jika akan menghasilkan sumbangan berupa barang, sebaiknya itu berwujud obat-obatan. Nah sukur-sukur kalau para dokter itu turun tangan langsung melakukan tindakan medis demi mengurangi beban para pengungsi.

Bonus:  

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan ber­moral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;

Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerja­an saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan ke­dokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;

Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan memper­taruhkan kehormatan diri saya

Advertisements

About ardaisme

Full-time Translator. 5000-word translation work everyday is not sensational achievement to be proud of. Dare to give more words to me to conquer? ring my whatsspp 082143168889 or PING! me 5FAA2CB4
This entry was posted in Transisi. Bookmark the permalink.

5 Responses to Batasi bahan pangan, tingkatkan tindakan medis

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s