Ketika harus berganti tema lagi

Bagi blogger wordpress bangkotan, maksudnya mereka yang jumlah postingannya sudah berbilang ratusan — ssstttt ada loh yang sudah di atas 5000 postingannya *nglirik yang hitsnya di atas 60juta 😆 — berganti tema adalah sesuatu hal yang sangat dihindari. Karena begitu kita setuju memasang tema baru, tampilan blog kita pasti berbeda, membuat para pengunjung akan merasa asing karena sudah terbiasa dengan tema akrab sebelumnya. Konsentrasi ngeblog kita pun akhirnya harus terganggu karena sibuk menata ulang dengan tema baru itu. Tapi kenapa saya harus menempuh risiko itu dan bersusah payah menatanya dari awal?

Mystique theme

Sebelum Mystique, saya nyaman dengan Piano Black yang anti mainstream :mrgreen: Saya rajin posting. Komentar yang masuk pun rutin saya balas. Promosi pekerjaan sebagai penerjemah pun berjalan dengan baik. Sampai semuanya berubah gara-gara WordAds menyerang!!!

Piano Black theme

WordAds membuat saya penasaran, kenapa mereka ada, di saya tidak ada? Saya pikir ini tergantung tema. Akhirnya Piano Black resmi saya pensiunkan, lantas seperti Androider yang baru bisa instal cusROM berkelana mencoba tema satu per satu.

Expound dicoba yang mirip kolom surat kabar, tidak puas; ganti dengan Flounder. Belum puas juga, berpindah Twenty Eleven yang pada saat itu akhirnya saya putuskan pakai ini saja, bukan karena sudah dapatkan WordAds, namun lelah mengatur dari awal tiap kali berganti.

Syukurlah, pencarian saya itu akhirnya membuahkan hasil ketika saya menemukan sedikit titik terang.

Advertisements

9 comments on “Ketika harus berganti tema lagi

  1. Pingback: Kenapa harus berganti ke Mystique? | arifdadot.com

  2. Pingback: Ketika Harus Memilih Sunspot | daspero hope

  3. Pingback: Mandheg bersamamu, Twenty Ten | ARIF DADOT

Comments are closed.