Déjà vu terjadi ….. untuk sekian kali

Layaknya bumi yang bulat, pengalaman manusia itu terasa selalu kembali ke titik awalnya. Seperti sudah melangkah begitu jauh, di suatu titik kita merasa pernah berada di tempat ini beberapa waktu sebelumnya, seperti dihempaskan mesin waktu.

Sebagian dari kita mungkin masih tetap menyangkal Facebook, meskipun diam-diam menggunakannya; dan sibuk meratapi matinya Friendster sebagai situs jejaring sosial (sekarang Friendster dikenal sebagai media sosial game). Friendster pun mungkin sebelumnya telah membuat platform serupa mati perlahan-lahan, dan sekarang ia mengalami hal serupa. Kini, akankah Facebook mengalaminya? Tidak ada yang tahu, meskipun sudah ada prediksi bahwa situs jejaring sosial ini tidak bertahan lama.

Hampir mirip adalah yang menimpa Multiply. Sewaktu diwartakan akan ditutup tidak lama lagi, banyak penggunanya yang campur aduk perasaannya. Singkatnya, mereka kecewa karena merasa sudah begitu melekat dan kini dipaksa untuk berpisah. Entah berdampak langsung atau kecipratan, WordPress pun menjulang, meraih popularitasnya belakangan ini, meskipun pasti ada faktor lainnya. Tapi, WordPress sebenarnya menyediakan hal-hal yang persis ditemukan di Multiply.

Dan ketika ponsel mulai booming, berkirim pesan singkat yang disebut SMS menjadi kegemaran baru. Dampaknya, surat pos, berkirim kartu ucapan, dan/atau telegram langsung merana, ditinggalkan begitu saja. Tapi tidak lama kemudian SMS pun mulai redup perlahan-lahan kala aplikasi instant messaging mulai diperkenalkan dan orang-orang tak sulit untuk akrab dengan BlackBerry Messenger. Aplikasi yang begitu eksklusif karena hanya terpasang di perangkat Blackberry yang dibandrol begitu mahal, menyisakan mereka yang begitu berhasrat diPING! harus menahan keinginannya hanya sampai SMS biasa. Namun seperti kisah klasik yang selalu berulang, BBM pun harus mengalah, memberikan tempatnya pada aplikasi lain dan segera WhatsApp pun meraja.

Kini, WhatsApp yang baru saja diakuisi Facebook dalam nilai fantastis terancam mengalami putaran nasib yang sama seperti para pendahulunya sebelumnya. Isu terkini, aplikasi pesan ini mulai ditinggalkan para penggunanya di Jerman karena alasan keamanan mengingat skandal mata-mata Kanselir Angela Merkel oleh pemerintah A.S. Jika WhatsApp benar mengalami déjà vu, di belakangnya sudah banyak aplikasi serupa siap menggantikan aplikasi besutan Jan Koum dan Brian Acton itu karena alasan privasi tersebut. Threema sepertinya yang siap mendapat “durian runtuh” itu.

Dan Déjà vu selalu berulang. 

Advertisements
This entry was posted in Transisi on by .

About ardot

Arif Rakhman (a.k.a ardaisme) is an English-Indonesian translator, capable of handling up to 5000 words a day on various topics and fields of interest. Shall you have urgency in translation, he can be contacted at saya@arifdadot.com for further discussion.

6 thoughts on “Déjà vu terjadi ….. untuk sekian kali

  1. Pingback: hidup kadang tak adil, perintis jadi pecundang | arifdadot.com

Comments are closed.