Cukup Sampai Di Sini

Itu mungkin yang menjadi tekad Jorge Lorenzo ketika pertama kali menginjakkan kakinya di garasi Yamaha Fiat saat itu. Di sebelahnya, berdiri dengan pongah dan angkuh, sosok juara dunia tak terkalahkan yang pernah menjalankan hidup balapannya berduel dengan jagoan-jagoan hebat dari masa silam, termasuk Mick Doohan, Sete Gibernau, dan Max Biaggi. Orang itu, Valentino Rossi, pasti sedang meremehkanku, batin Jorge Lorenzo. Namun sejarah mencatat, mungkin berbekal tekad “cukup sampai di sini” itu, Lorenzo mampu juga mengalahkan Rossi dan rentetan torehan gemilangnya di MotoGP.

Kalau Lorenzo bisa, kenapa kita tidak? Memangnya kita bisa apa? Tentu, bertindak seperti Lorenzo: memutus rantai. Rantai apa? Rantai apa saja, rantai yang tidak perlu diperpanjang lagi. Apalagi kita sendiri tidak tahu hulu rantai itu dan untuk apa rantai itu jika terus dibiarkan terentang sampai hilir. Kalau kita diminta meneruskannya sampai ke hilir, perlu sekali kita cek lagi ke hulu bagaimana cara yang tepat merentangkannya sampai ke hilir.

Advertisements
This entry was posted in Transisi on by .

About ardot

Arif Rakhman (a.k.a ardaisme) is an English-Indonesian translator, capable of handling up to 5000 words a day on various topics and fields of interest. Shall you have urgency in translation, he can be contacted at saya@arifdadot.com for further discussion.

10 thoughts on “Cukup Sampai Di Sini

  1. husni

    ongkos ngalahin rossi mahal pak.. Untuk belajar ngalahin rossi di 2010 berapa cidera harus dia lewatin lorenzo di thn sebelumnya di 2009. Now, uniknya tahun ini mulai abu2 siapa sebenarnya pembalap#1 di Team Yamaha factory.. 🙂

    menurut ane pembalap2 anomali sudah ditulis takdir-nya.. MM#93 & VR#46.. hehe

  2. Johng460

    Very efficiently written post. It will be valuable to anyone who usess it, as well as myself. Keep doing what you are doing i will definitely read more posts. cebfaefkdfcb

Comments are closed.