jokowi HANYA cocok disamakan dengan david moyes

Pilpres semakin dekat, persaingan makin ketat. Apa saja dilakukan agar tercapai satu tujuan. Tidak hanya penggemarnya yang kerap disamakan dengan anjing karena begitu membabi buta membela tuannya, para tuan sendiri pun berjibaku tiada henti saling mengalahkan. Kalau di dunia nyata, persaingan ini mungkin terasa hanya sekadar di panggung kampanye atau konvoi kendaraan, tapi di dunia maya atmosfernya jauh lebih dinamis dan seringkali kebablasan dan kelewatan.

Begitu bersemangatnya menjilat bokong tuannya, ada saja pendukung jokowi yang mengalami delusi dan halusinasi. Secara merendahkan dan menghina, mereka menyamakan jokowi dengan dua tokoh yang tidak layak disandingkan dengan jokowi. Pemikiran delusi dan halusinasi ini sangat melecehkan banyak pihak dan mereka yang melontarkan ucapan ini harus dirujuk ke rumah sakit jiwa dengan tingkat pengamanan maksimum.

LALU SIAPA SEBENARNYA YANG COCOK DISAMAKAN DENGAN JOKOWI? Tidak lain dan tiada bukan, orang itu adalah David Moyes. Mudah saja menemukan alasannya. Moyes sukses di Everton dalam konteks konsistensi di mana Everton tetap bersaing di papan tengah bagian atas. Everton awalnya adalah tim medioker yang diubah Moyes menjadi tim penantang para juara. Moncer sebagai pelatih Everton dan mungkin juga kesamaan daerah menggoda Sir alex Ferguson meliriknya sebagai suksesornya kelak di Manchester United. Jokowi pun demikian. Konon katanya sukses di Solo aka Surakarta, mengangkat pamor kota ini lebih tinggi dan mendongkrak reputasinya, jokowi lantas meloncat layaknya kutu beras untuk mengadu peruntungan di Jakarta meskipun periode menjabatnya tidak tuntas.

Di Jakarta pun jokowi ternyata menorehkan prestasi serupa. Namun, baru sekitar dua tahun memerintah dan belum tuntas menyelesaikan semua program dan janjinya, jokowi kembali meloncat seperti tungau untuk menjajal jabatan paling tinggi, presiden; posisi sama yang dirasakan Moyes saat pindah ke Manchester United. Namun, di Manchester United Moyes tidak menyangka situasinya berbeda, sehingga melontarkan kata-kata putus asa bahwa ia tak menyangka menangani MU lebih sulit dari dugaannya.

Manchester United jauh lebih besar dari Everton dalam segalanya, tidak perlu diperinci satu per satu semua sudah tahu. Dan, bagi jokowi pun sama saja. Solo, Surakarta, bahkan DKI Jakarta jauh lebih kecil dan renik dibandingkan Indonesia yang tantangan geografisnya jauh lebih besar daripada sekadar masuk-keluar perkampungan yang masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Modal blusukan khas jokowi jika diterapkan dalam konteks Indonesia pasti membentur dua kemungkinan setebal tembok Cina: Menghabiskan anggaran negara karena harus terus bolak-balik ke pelosok Indonesia dengan penerbangan yang lebih cepat dan efisien ATAU hanya bersandar di tembok sambil tepok jidat karena tak sanggup dan akhirnya menyerah, ternyata mengurus Indonesia lebih sulit dari dugaan saya.

8 comments on “jokowi HANYA cocok disamakan dengan david moyes

  1. Kebiasaan orang Indonesia menilai seseorang hanya dari penampilan? memang banyak program jokowi yang belum tuntas tapi sudah jadi bukti bahwa pemimpin ini kerja nyata bukan cuma wacana kalau mau menjatuhkan jokowi bikin alasan yg lebih kuat om jangan dasar praduga,kalau bikin artikel kaya gini mah gw rasa anak SMP juga bisa tapi kan om bukan anak SMP?

  2. Lebih nyaman kita obrolin roda 2,karena masih banyak kok berita roda2 yang belum di ulas…..

  3. belum tuntas? Tidak tuntas tepatnya. Tanabang macet lg, APBD kocar kacir, lepas tangan kasus transJ karatan. Salut utk mas arifdadot, butuh mental kuat utk bikin postingan seperti ini. Fansboy Jokowi biasanya akan langsung menyerang postingan seperti ini, tanpa bs membedakan mana fitnah mana fakta. Kebenaran memang pahit diungkapkan, sy belum seberani mas arifdadot

  4. Pingback: Gagal Rontokkan Ninja 250R, Suntik Mati Euthanasia Sudah Menanti R25 Demi NMax | ArDa

  5. Pingback: Merangkak Di Kemacetan, Tahukah Kamu Ini Mobil Apa? | ARIFDADOT.COM

  6. Pingback: Mulai Hari Ini, Semua Orang Cinta Pak Jokowi; Iya Kamu Juga! | ARIFDADOT.COM

Comments are closed.