Advertisements

Kita Sedang Menganggap Bir Minuman Terbaik?

Dalam keyakinan yang saya anut, bir itu tidak boleh dikonsumsi. Faktanya, bir itu paling kecil kemungkinannya menyebabkan mabuk. Meskipun demikian, tidak berarti lantas dibolehkan icip-icip. Karena semua yang besar selalu berawal dari hal mungil. Tapi, bagaimana kalau dalam situasi darurat tidak tersedia minuman (berfaedah) selain hanya bir? Misalnya, di pulau terpencil setelah kapal karam (ingat film Castaway). Demi mencegah dehidrasi seketika, bir terpaksa ditenggak juga. Rasanya menurut pendapat pribadi, kita akan makin terbiasa dengan bir, menganggapnya sebagai minuman terbaik karena mampu memberi kita cairan meskipun dalam jangka panjang, mungkin juga jauh lebih panjang, berdampak negatif bagi seluruh kesehatan si penenggak.

Mungkin itu analogi yang tepat menyikapi perkembangan tunggangan mesin aka R2 di sekitar kita. Kita seperti dipaksa menerima bahwa seluruh jajaran motor yang diproduksi itulah yang terbaik dan karenanya dianggap yang terbaik. Padahal mungkin saja ada yang merasa kurang sreg dengan produk yang ada. Mereka yang berbadan tambun, misalnya. Atau, mereka yang sangat jangkung. Atau, sebaliknya mereka yang tidak cukup tinggi menunggang si motor. Jelas menunggang motor-motor yang ada sekarang sangat tidak proporsional. Hal lain yang terkadang terpaksa diterima begitu saja adalah spesifikasi produk bersangkutan. Motor ini ditawarkan dengan daya-torsi sekian yang sebenarnya tidak cukup untuk pemotor di kawasan yang seharusnya butuh daya-torsi lebih besar. Pada akhirnya, karena kebutuhan utama lebih mendesak, hal ini diterima begitu saja. Semua ketidakseimbangan itu lama-kelamaan dianggap lumrah karena sudah terbiasa.

“Bir yang diminum” ironisnya memberikan berkah bagi orang lain. Gangguan organ dalam memaksa penenggak bir mendatangi internis. Hal yang kurang lebih sama terjadi pula pada motor yang tidak proporsional. Rumah-rumah modifikasi kebanjiran order, entah meninggikan atau merendahkan tinggi jok. Mereka juga diminta menambah daya-torsi. Toko ban juga kebagian berkah karena ban-ban yang ditawarkan melebihi ukuran standar pabrikan laris manis dibeli, selain karena kualitasnya tentu lebih baik. Namun itu semua tidak gratis karena pasti tidak ditanggung oleh pabrikan.

Mungkin sebenarnya, sampai kapan pun menemukan produk yang sempurna tidak akan pernah terjadi. Apalagi pabrikan juga tidak mau keluar biaya banyak hanya untuk mengakomodasi kalangan perfeksionis :mrgreen: Atau, mungkin juga ini hanya masalah rasa. Ya, soal keterbiasaan tadi. Awalnya merasa tidak sreg, lama-kelamaan cocok-cocok saja. Dan, pabrikan jadi punya alasan untuk berdalih. “Ketidaksempurnaan” yang dibuat berdampak baik bagi orang lain, mereka yang berkecimpung di usaha rumah-rumah modifikasi. Silakan saja memilih.

Yang pastinya tidak boleh adalah minum bir sambil menunggang motor 😆

Advertisements

About ardaisme

Full-time Translator. 5000-word translation work everyday is not sensational achievement to be proud of. Dare to give more words to me to conquer? ring my whatsspp 082143168889 or PING! me 5FAA2CB4

8 responses to “Kita Sedang Menganggap Bir Minuman Terbaik?”

  1. Mase says :

    Tutupen botolmu mas #eh

    Like

  2. Ligga7n says :

    Birbowo Subianto & Birko Widodo ya om

    Like

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: