Advertisements

Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi?

Ada saat kita tercerai-berai. Ada pula masa kita mampu bersatu. Ada yang mengacungkan telunjuk, ada yang mengajukan dua jari. Namun jika urusannya adalah mendukung tim Oranje Belanda di Brasil 2014, pendukung Joko Widodo mungkin satu suara dengan pendukung Prabowo Subianto: Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Slogan itu cocok sekali dengan tim Oranje yang baru saja memastikan lolos ke semifinal.

Momen apa yang sedang dikejar Belanda? Tak lain adalah juara piala dunia. Oranje selalu saja harus gigit jari dengan mendapat predikat spesialis nyaris atau juara tanpa mahkota. Mereka melakukannya di tahun 1974 dan 1978, namun dibenamkan Jerman (Barat) dan Argentina. Sekali lagi, mereka memunculkan harapan itu di Afrika Selatan tahun 2010 namun digagalkan Spanyol. Dan di Brasil tahun ini, “kalau bukan sekarang, kapan lagi?” sangat relevan dan harus jadi nyata. Apa alasannya?

  1. Pelatih. Rekam jejak Louis van Gaal sebagai pelatih tak perlu diragukan lagi. Memang ia punya sedikit cela, misalnya, cenderung otoriter, namun nyatanya ia mampu bikin Oranje tim paling produktif sepanjang piala dunia 2014. Selepas van Gaal pensiun usai piala dunia Brasil, Belanda mungkin harus menunggu lama hingga muncul pengganti van Gaal yang sama atau lebih mumpuni.
  2. Skuat. Mayoritas tim Oranje diisi oleh pemain muda. Namun mereka dibina dan dibimbing para senior alumni Afrika Selatan 2010. Robin van Persie, Arjen Robben, Klaas Jan Huntelaar, mungkin belum akan pensiun di piala dunia Rusia 2018, namun saat itu performa mereka mungkin mulai memudar. Piala dunia 2014 membuktikan betapa kegemilangan dan senioritas terutama dari van Persie dan Robben mampu menggelorakan semangat para pemain muda itu untuk membentuk tim Oranje seperti sekarang ini.
  3. Tren positif. Lolos meyakinkan dari fase grup, mampu bertahan dari cuaca super panas dan melewati hadangan tim Meksiko dan Kosta Riko adalah modal positif untuk berlaga di babak semifinal. Tak ada tekanan, tak ada beban. Semua rileks dan santai yang berpotensi mendorong tim Oranje bermain sebagaimana harusnya saat melawan Argentina di babak semifinal.

Jika momen langka seperti ini harus kembali lepas, mempertimbangkan tiga faktor di atas, entah di piala dunia edisi kapan, tim Oranje benar-benar mewujudkan mereka memang juara sejati, bukan sekadar slogan penghibur “juara tanpa mahkota”.

Advertisements

About ardaisme

Full-time Translator. 5000-word translation work everyday is not sensational achievement to be proud of. Dare to give more words to me to conquer? ring my whatsspp 082143168889 or PING! me 5FAA2CB4

3 responses to “Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi?”

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s