Ketika Harus Kalah

Lionel Messi terus disorot kamera. Meskipun mendapat penghargaan, langkahnya tetap saja gontai. Wajahnya pun datar. Uluran tangan penggemar yang berharap balasan tidak ia gubris. Messi masih menyesali kutukannya: bersinar bersama klub tapi tak bisa membawa tim negaranya cemerlang.

Paras-paras penggemar Argentina pun meningkatkan suasana. Mulut ternganga, mata yang sayu, atau tangan yang menutup muka semuanya memperhebat kesedihan yang dirasakan setelah Argentina dinyatakan kalah di final piala dunia 2014 di Brasil.

Setia mendukung sejak pertandingan pertama hingga final tuntas digelar namun hasilnya sungguh mengecewakan melekat kuat layaknya karat pada logam. Bagaimana kiatnya untuk menanggalkan itu semua, move on untuk kembali ke kehidupan normal dan bersemangat?

  1. Satu yang pasti, jangan bengong. Pikiran kosong akan mudah kerasukan jin mengingat kembali hal yang sudah lewat, dalam hal ini tentu pertandingan yang menyesakkan dada. Pikiran akan dipenuhi “ah, coba tadi begini, atau begitu,” “harusnya tidak begini, atau begitu,” dst… dst… Sebaliknya, sibukkan diri dengan hal selain sepakbola, tapi jangan dipaksakan. Menanam saham atau investasi dapat membantu melupakan kenyataan yang menyakitkan ini ditinggal pacar kawin lari.
  2. Hindari Internet. Sebenarnya, ini termasuk juga membaca koran dan menyimak televisi. Namun, mengingat sebaran informasi paling masif terjadi di Internet, fokuskan saja di situ. Jangan gunakan akun media sosial selama beberapa hari sampai euforia kemenangan normal kembali. Singkatnya, putus hubungan dari Internet dan jadilah manusia gua.
  3. Tak ada hubungan apa pun dengan janda kampung sebelah. Kemelekatan mudah terbentuk saat kita tekun mengikuti tim pilihan kala bertanding. Apalagi frekuensinya cukup rapat, hanya berselang seminggu. Namun, mengapa tak mudah pula melupakan istri orang? Tanamkan dalam pikiran mereka bukan siapa-siapa, tidak memberi dampak pada hidup kita, simpati kita pun tak bakal digubris (ingat Lionel Messi yang mengabaikan uluran tangan penggemar?). Kita terus meratapi, kita sendiri yang rugi dan mereka juga tidak akan mengapresiasi simpati kita.

Tiga hal di atas penting dilakukan untuk menetralkan pikiran dan perasaan kita. Jika telah berjalan seminggu atau lebih rasanya semua sudah kembali normal karena berita sepakbola pasti isinya tentang transfer pemain. Jika kita masih bersedih padahal euforia telah lewat, berarti kita sendiri yang sengaja mencari-cari video kekalahan tim pilihan kita 😆

sumber gambar :

Fifa dan DailyMail

Advertisements

2 comments on “Ketika Harus Kalah

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s