Advertisements

Kecanduan Subsidi Turut Disuburkan Pabrikan Otomotif

Tadinya ingin menyebut satu atau dua merek tertentu, tapi karena berketetapan hati itu tidak adil dan memang nyatanya demikian, kita sebut saja sebagai pabrikan otomotif ya :mrgreen:

Tak ada satu pabrikan yang mendominasi, sehingga beban tertuduh semacam ini harus ditanggung bersama di antara mereka semua, pabrikan otomotif.

Gonjang-ganjing penaikan BBM masih belum reda. Suara-suara protes masih bergema di sana-sini. Tapi, kalau melihat di jalan tol seperti yang dipotret tim Detik.com yang selalu penuh sesak kendaraan, aksi-aksi penolakan itu sebenarnya kepentingan siapa? Baiklah, kita singkirkan dulu asumsi konspirasi tentang dalang yang tak piawai memainkan wayang kulit itu. Ini karena yang akan dibahas sesuai dengan judul di atas.

Sembarang pabrikan otomotif secara tidak langsung turut menyemai ketergantungan pada subsidi. Kita boleh menuding misalnya soal kendaraan terjangkau yang diproduksi dalam jumlah banyak. Ini pula sekaligus sebagai ironi. Di satu sisi begitu harga BBM seperti ini dinaikkan, ada banyak yang protes. Tapi di sisi lain produksi kendaraan semacam itu selalu disertai dalih bahwa ekonomi dan daya beli masyarakat sedang menguat. Mana yang benar?

Argumen pertama di atas mungkin dapat dipatahkan bahwa produksi semacam itu turut mengurangi angka pengangguran, menciptakan lapangan kerja (meskipun berlangsung beberapa bulan saja dan tidak permanen), tapi dalam memproduksi, pabrikan seharusnya jangan kompromi.

Pernah tercetus saat perilisan kendaraan baru bahwa konsumsi BBM subsidi tidak akan jadi masalah karena sistem pengapian dan pembakarannya sudah disesuaikan. Padahal di negara lain kendaraan yang sama dibuat dengan mengedepankan performa yang kalau pengaturan pengapian/pembakaran disesuaikan dengan BBM subsidi jelas tidak bisa. Parahnya, kendaraan semacam itu turut diproduksi dalam jumlah massal, satu lagi penyebab BBM subsidi terkuras sia-sia.

Terakhir, soal purna-jual. Kalau pabrikan tegas menolak klaim akibat pemakaian BBM subsidi padahal spesifikasi mesin mengharuskan penggunakan BBM non-subsidi, rasanya konsumen -awalnya terpaksa- akan beralih ke BBM non-subsidi, cepat atau lambat.

Tapi ya sudahlah. Kita nikmati saja satu episode lagi di negeri kita tercinta ini. Lagipula kalau tidak begitu, saya tidak ada bahan untuk bikin tulisan baru di blog ini 😆

Advertisements

About ardaisme

Full-time Translator. 5000-word translation work everyday is not sensational achievement to be proud of. Dare to give more words to me to conquer? ring my whatsspp 082143168889 or PING! me 5FAA2CB4

5 responses to “Kecanduan Subsidi Turut Disuburkan Pabrikan Otomotif”

  1. JNYnita says :

    Mobilku jg katanya spec-nya lebih cocok premium, tp seringnya diisi pertamax, klo gitu ngaruh juga?

    • dadot says :

      karena bukan ahli dan peminat permesinan, saya tanggapi aja secara normatif kalo RON tinggi biasanya lebih sedikit menyisakan kerak di blok mesin

  2. Kobayogas says :

    sebut aja mereknya, Toyota dan Daihatsu 😛

  3. jordan says :

    (sementara) Mengendorkan penjualan mobil..memacu penjualan motor sekarang dan seterusnya.

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s