Apa Iya Harus Dipisuhi Dulu Agar Tertib Berkendara Di Jalan Raya?

Pisuh-memisuh sebenarnya bukan mutlak milik Jawa Timur, utamanya Surabaya dan Malang, seperti yang selama ini dikenal oleh kebanyakan orang. Pisuh atau secara bebas diterjemahkan sebagai memaki adalah bahasa universal saat seseorang sedang di puncak kemarahannya, katakanlah begitu. Tapi Pisuhan di Jawa Timur ini memang unik dan hanya mereka yang pernah tinggal di dua kota itu saja yang sanggup merasakan “atmosfer” tersendiri kala pisuhan dilontarkan.

Terkait dengan ketertiban lalu-lintas, ternyata sah-sah saja pisuhan digunakan untuk menyadarkan kebanyakan pengguna jalan, utamanya pemotor dan pengemudi, untuk tidak serampangan melajukan kendaraannya. Ini sebenarnya sungguh ironis mengingat citra Indonesia yang konon manusia adiluhung dan berbudaya.

Pangkal dari dua paragraf di atas adalah semalam saat RB Malang akan kopdar dengan menunggu terlebih dahulu di halte Rumah Sakit Lavalette sebagai titik kumpulnya. Jalan di depan R.S. Lavalette ini sangat ramai kedua arahnya, di mana arus selepas keluar dari bundaran Rampal yang bersatu dengan arus dari stasiun kotabaru melaju kencang menuju terminal Arjosari. Sebaliknya, Arus dari Arjosari pun tak kalah kencangnya, meskipun harusnya mereka, terutama para pemotor, mengurangi kecepatan saat akan memasuki Bundaran Rampal mengingat beberapa arus dari arah berlawanan menyatu pula di situ, apalagi persis di depan halte R.S. Lavalette ada zebra cross. Faktanya, semua kendaraan seperti sedang membalap di sirkuit, tidak mau mengerem sedikit pun. Keadaan ini menjadikan seorang penyeberang jalan yang kebetulan seorang difabel frustrasi untuk menyeberang, dan akhirnya terlontarlah Pisuhan khas Jawa Timuran :mrgreen:

Setelah Dipisuhi begitu nyaring dan berkali-kali, barulah mereka, para pengendara dan pemotor itu mengurangi kecepatan kendaraan mereka. Sungguh ironis! Ironis buat siapa? penyeberang jalan difabel yang memisuh? hahaha… bukaaaannn…. Tapi ironis bagi para pengendara kendaraan yang seperti sedang membalap di sirkuit, padahal lampu mereka menyorot terang zebra cross. Penyeberang jalan difabel itu sudah sangat tepat memisuh untuk mendapatkan haknya.

Kejadian semalam itu menimbulkan satu pertanyaan, apa iya untuk menertibkan jalan raya, jalan kekerasan harus ditempuh? Dalam kasus semalam, katakanlah kekerasan verbal yang digunakan. Bagi mereka yang konon berkecimpung dalam pengajaran kesantunan dan adab-adab, memisuh sangat tidak pantas. Tapi kalau para pengendara jalan sendiri tidak memiliki pemahaman berkendara yang baik, termasuk hak pengguna jalan lain dan fungsi marka jalan yang ada, anggap saja keadaan darurat yang memaksa memisuh perlu dilakukan :mrgreen:

Mungkin pula karena jengah dengan perilaku kebanyakan pemotor di jalan raya, pemerintah propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta melontarkan “pisuhan” pula lebih nyaring agar diperhatikan para pemotor itu dengan melarang kendaraan roda dua memasuki jalan-jalan protokol di ibukota NKRI itu.

Advertisements

4 comments on “Apa Iya Harus Dipisuhi Dulu Agar Tertib Berkendara Di Jalan Raya?

Comments are closed.