Cerita Gadis Yang Mau Diajak Menginap Di Hotel

Semenjak ada bWAdai yang tak disangka-sangka serangannya, banyak blogger mendadak galau, kehilangan gairah menulis lagi di WordPress. Keceriaan yang dulu pernah ada mendadak sirnah. Apalagi yang menjadi korbannya adalah teman sendiri. Otomatis kegundahan yang timbul makin menambah kegelisahan. Obrolan pun berkembang dari sekadar tentang cara menghindari razia hingga berpikir jangka panjang soal pemakaian self-hosting atau domain sendiri. Kali ini saya coba bahas semampu saya tentang self-hosting dan domain. Kalau ada yang kurang lengkap atau kurang tepat, silakan tambahkan di komentar atau bikin pos baru dan silakan backlink ke pos ini :mrgreen:

berbagai pilihan domain, hijau lowong, merah sudah ada yang punya

berbagai pilihan domain, hijau lowong, merah sudah ada yang punya

Domain itu ibaratnya wanitagadis, perempuan. Ada banyak sekali jumlah makhluk itu, seperti itu melimpah ruah domain yang ada. saya.com dan saya.net saja sudah beda. Kalau itu diketikkan pasti tujuannya beda. Contoh saja arifdadot.com. Bandingkan dengan arifdadot.net saat diklik, tidak ada cowok kece berseragam Jatimotoblog lagi levitasi di Simpang Lima Gumul :mrgreen: Ngomong-ngomong, mana domain yang cocok? Ya itu sesuai selera masing-masing seperti kita pilih calon istri. gmail.com memang terkenal sedunia, tapi apa cocok buat kita? Belum lagi kalau soal aturan domain ini sudah ada yang punya (not-available) atau sudah dipesan (reserved).

Kalau kita sudah mantap dengan domain pilihan kita di penyedia domain yang ada, seperti melamar sang wanita, saatnya ijab kabul, bayar mahar ke penyedia domain tadi. Kalau sudah disetujui, jadilah domain milik kita. Sekarang cari tempat berteduh bagi para pengantin baru atau hosting. Awalnya mungkin belum mampu beli rumah sendiri, jadinya sewa rumah dulu (alias kontraktor). Sama juga soal hosting. Mungkin kita yang baru mulai ngeblog, mengontrak atau menumpang dulu di hosting terkenal macam WordPress atau Google. Sebenarnya WordPress khususnya adalah “mertua baik hati”: ia tawarkan anaknya (domain saat kita baru pertama kali daftar => xxx.wordpress.com yang ditawarkan jadi xxx.com) sekaligus disediakan rumah besar (hosting) berukuran 3 GB. Boleh tinggal di situ sampai kita seisi rumah sudah penuh dengan segala perabotan kita (konten blog, foto, video). Tapi terkadang saat kita berkreasi terlalu jauh, mertua kita itu tidak senang karena menurutnya rumah gratisnya harus tetap dipatuhi aturannya (timbul bWAdai tadi 😆 ). Akhirnya kita mengalah, memilih keluar saja dari rumah nyaman itu (pindah dari hosting WordPress). Sang istri, si domain itu, turut dibawa serta.

Sekarang, bersama si istri yang dibawa tadi, apakah domain yang kita beli di tempat lain atau disediakan WordPress (dotcom), kita perlu cari tempat tinggal baru, hosting. Ini agar kita bebas menghiasi rumah kita itu. Demi segera berteduh, kita mungkin pilih hotel dulu. Tapi kalau banyak info soal kontrakan, kita juga bisa cepat dapat kontrakan yang murah dan terjangkau tapi tetap nyaman. Memang penginapan, hosting, pun beda-beda. Ada kontrakan model rumah susun. Jadi harus bagi-bagi dengan penghuni lain (shared hosting). Jadi kurang nyaman juga rasanya kalau banyak tamu (pengunjung, visitor weblog kita), menggunakan fasilitas bersama dengan penghuni lain. Kalau rumah kita itu rutin dan selalu dikunjungi tamu yang tetap jumlahnya, perlu dipikirkan rumah khusus kita saja yang tinggal (dedicated hosting) agar mereka juga nyaman berkunjung ke rumah kita itu (kecepatan buka website kita, tak perlu ada page not found, 404, atau apalah yang error itu).

Terakhir yang perlu diperhatikan adalah proses keluar dari “pondok indah mertua” tadi (dalam hal ini hosting WordPress) dalam hal membawa si domain yang kadung melekat dengan kita. Konon perizinannya merepotkan dan njelimet. Tapi kalau sudah soulmate dengan si domain, ya harus ditempuh juga. Kalau tak mau repot, ya sudah cari domain baru lagi dari awal. Tapi berarti semua jejak yang pernah kita dapatkan bersama di domain sebelumnya langsung musnah. Mereka yang biasa kenali kita dengan si domain yang sudah kita tinggalkan itu jadi susah mengenali dan menemukan kita (weblog kita).

Sampai di sini uraian tulisan inspirasi dari grup WhatsApp Jatimotoblog. Semoga bisa menemukan hosting yang sesuai dan pas, dan pastinya kita sepenuhnya yang mengontrol.

Advertisements
This entry was posted in Transisi on by .

About ardaisme

Full-time Translator. 5000-word translation work everyday is not sensational achievement to be proud of. Dare to give more words to me to conquer? ring my whatsspp 082143168889 or PING! me 5FAA2CB4

4 thoughts on “Cerita Gadis Yang Mau Diajak Menginap Di Hotel

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s