Advertisements

Bagaimana Seseorang Bisa Mengembangkan dan Menetapkan Fobia Terhadap Kucing?

Di antara begitu banyak fobia yang telah diidentifikasi dan dikenal masyarakat, beberapa fobia mungkin terasa aneh bagi orang normal yang menganggapnya itu berlebihan. Tapi bagaimana pun juga itu sangat personal dan pengidapnya punya alasan tersendiri mengapa memiliki fobia tertentu. Satu di antara sekian banyak fobia yang bisa disebutkan adalah ailurofobia. Ailurofiobia merupakan ketakutan pada kucing. Ini pasti aneh karena bagi orang normal bagaimana bisa hewan yang sangat lucu nan menggemaskan bisa terlihat dan dirasa begitu menakutkan dan mengerikan bahkan sekadar didekati. Tapi begitulah faktanya. Pengidap ailurofobia tidak mau tahu apakah itu kucing persia yang lucu atau memang kucing garong itu sama menakutkannya.

Ailurofobia bisa muncul terutama karena trauma masa kecil. Misalnya saat berusia balita pernah dicakar kucing saat didekatkan dengan seekor kucing. Kucing yang nakal dengan cara merebut makanan yang masih dipegang pun bisa menimbulkan ailurofobia saat yang bersangkutan tumbuh dewasa. Tapi kali ini akan dibahas tentang bagaimana ailurofobia bisa saja tumbuh bahkan saat kita sudah dewasa.

Ailurofobia bisa menimpa orang dewasa jika orang itu mulai merasa tidak nyaman saat didekati kucing. Ini biasanya terjadi saat orang itu ingin sendiri. Biasanya kita berinteraksi dengan kucing karena memang sedang butuh hiburan, refreshing, kita yang mendekati. Tapi berbeda situasinya kalau kucing yang mendekat sementara tidak kita inginkan. Biasanya ini terjadi salah satunya saat sedang makan. Wajar saja karena sebagai hewan rumahan, kucing sudah terbiasa dengan makanan yang sehari-hari kita makan dan ia berharap ada sedikit remah diberikan untuknya. Mula-mula kita akan terganggu karena makan jadi tidak tenang mengingat ditingkahi dengan suara mengeong yang tidak mengenakkan di telinga. Makan berikutnya kita sudah mulai cemas, apakah kucing itu akan datang lagi atau tidak. Dan ketika kucing itu memang datang, kita semakin kesal dan jengkel. Perasaan tidak nyaman semacam itu jika tidak diantisipasi akan terus berkembang menjadi ketakutan yang lama-lama berubah permanen dan akhirnya sudah tidak bisa dihilangkan lagi.

Advertisements

About ardaisme

Full-time Translator. 5000-word translation work everyday is not sensational achievement to be proud of. Dare to give more words to me to conquer? ring my whatsspp 082143168889 or PING! me 5FAA2CB4

One response to “Bagaimana Seseorang Bisa Mengembangkan dan Menetapkan Fobia Terhadap Kucing?”

  1. Liggan says :

    pembahasan menarik bro, dan bisa dibuat lebih mendalam.

    kebanyakan fobia merupakan proyeksi dari ketakutan dan/atau trauma terhadap hal lain yang sifatnya lebih ‘besar’ dari pencetus fobia itu sendiri. ada dua (atau lebih) peristiwa/hal traumatis: satu trauma psikis (yang menjadi ‘bibit’ fobia), yang lainnya trauma fisik (yg menjadi pencetus fobia).

    contoh: klien A mengalami fobia terhadap ular. ia ketakutan bahkan jika ularnya hanya berupa gambar. setelah ditelusuri, ternyata A semasa kecil sering melihat (maaf) kelamin kakak-kakaknya yg semuanya laki-laki. itu bibit fobia. sementara pencetusnya adalah A pernah melihat ular di dalam rumah (setelah bertahun-tahun mengalami peristiwa ‘bibit fobia’)

    pun demikian fobia terhadap kucing, rambutan, anjing, pisang, dll.

    penjelasan ini sy modifikasi agar mudah dipahami, kebetulan sy seorang psikolog :mrgreen: salam kenal ya bro ArDa

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s