Apakah Ikan Lele Suatu Saat Akan Punah?

Kalau menyebut lele, rasanya semua orang pasti mengenalnya. Menjadi aneh kemudian adalah orang yang mengaku belum pernah bertemu atau bahkan melihat ikan berkumis ini. Ciri khasnya yang tak lain adalah blu “cambuk” seperti kumisnya tukul yang menempel di kedua sisi moncongnya menjadikan ikan lele mudah dikenali. Justru karena penampakannya yang aneh pula — terlihat seperti ular — harusnya semua orang pasti mengenal dan bisa membayangkan — meskipun dengan sedikit kengerian — seperti apa wujud ikan lele, sehingga berarti langsung mengenalinya.

Lalu, sekarang kita bicara masakan berbahan ikan lele. Paling terkenal tentu saja pecel lele yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan bumbu kacang dan sayuran rebus. Pecel di sini diartikan sebagai ikan lele yang digeprak dalam sambal pedas, pecel lele lebih mirip sebagai lalapan sebenarnya. Di mana-mana warung pecel lele ramai menjajakan diri. Masing-masing tampil sesuai dengan kelas penggemarnya. Dan seiring dengan begitu banyak mulut yang ingin disuap pecel lele, terutama di kota dengan jumlah mahasiswa begitu membludak, kebutuhan ikan lele segar dipastikan semakin meningkat.

Usaha konservasi memang sudah dilakukan. Jadi kita bisa saksikan peternak/petambak ikan lele sama sumringahnya dengan para pedagang kuliner pecel lele karena dagangan mereka sama larisnya. Tapi ketika rencana menteri perikanan saat ini, Susi Pudjiastuti, ingin menggalakkan “gemar ikan laut”, keberadaan ikan lele menjadi terancam. Menteri Susi dikabarkan memang geram dengan tingkat konsumsi ikan laut yang rendah, disebabkan oleh penjarahan kapal-kapal asing, di samping nelayan yang masih menggunakan peralatan tradisional. Kegeraman ini lantas merembet pula untuk memangkas produksi ikan air tawar, yang lele adalah salah satunya, karena nyatanya pakannya adalah hasil impor. Sejalan dengan rencana pengurangan impor yang dicanangkan, maka pakan ikan air tawar dikabarkan segera dikurangi atau bahkan ditutup.

Petambak/peternak yang begitu tergantung pada pakan bisa kelimpungan kalau impornya ditutup. Kalau sudah begitu pasokan ikan lele makin berkurang. Di saat yang sama, permintaan ikan lele tak akan sama berkurangnya, malah terus naik karena makin banyak perut keroncongan. Pilihannya kemudian adalah lari ke alam, di sungai-sungai alami yang berharap masih ada ikan lele bisa ditangkap ketika hasil konservasi sudah tidak mampu mencukupi. Kalau sudah begini dan praktik semacam ini tidak dicegah, mungkin kelak ikan lele berkumis itu hanya bisa disaksikan sudah berupa fosil di museum.

Advertisements
This entry was posted in Transisi on by .

About ardot

Arif Rakhman (a.k.a ardaisme) is an English-Indonesian translator, capable of handling up to 5000 words a day on various topics and fields of interest. Shall you have urgency in translation, he can be contacted at saya@arifdadot.com for further discussion.

5 thoughts on “Apakah Ikan Lele Suatu Saat Akan Punah?

Comments are closed.