Ketika Mobil F1 Kini Sudah Tak Mampu ‘Bernyanyi’ Nyaring Lagi

arifdadot.com – Azrul Ananda, dalam ulasannya di harian Jawa Pos edisi hari ini, Selasa (17/03/2015), seperti mengeluh kalau balapan F1 belakangan ini sudah tidak nikmat lagi untuk ditonton. Satu Azrul menggarisbawahi beberapa penyebabnya, termasuk krisis global yang pernah terjadi di pertengahan dekade lalu dan atraksi yang tak sehebat era ’90. Penyebab terakhir itu dapat diperluas untuk mencakup suara raungan khas mobil F1 yang kini telah hilang, menjadi satu alasan menurunnya animo penonton secara merata di seluruh dunia. Keluhan Azrul itu dapat dimaklumi mengingat putra tunggal Dahlan Iskan termasuk penggemar veteran yang telah mengikuti balapan ini sejak ’90 yang dapat dianggap sebagai periode emas balapan F1.

Kalau kita sendiri cermati dua musim terakhir, atraksi utama F1 memang semakin memprihatinkan dan daya tariknya terus menurun, di samping dominannya Sebastian Vettel (waktu itu masih bersama Red-Bull Renault) selama empat musim berturut-turut di awal dekade ini. Mobil-mobil F1 kini melaju seperti kita menikmati film Charlie Caplin yang masih tanpa dialog dan musik latar: Semua serba sunyi, semua serba senyap. Coba kita bandingkan saat balapan F1 masih menggunakan mesin konfigurasi V10 atau V8. Di era yang konon menuntut penghematan di segala bidang, F1 pun terkena dampaknya. Akibatnya, regulasi baru diperkenalkan yang salah satunya adalah penciutan kapasitas mesin menjadi 1600 cc V6 saja, tapi dengan lonjakan turbo charger.Alasan penghematan telah membuat balapan F1 kehilangan salah satu “magisnya”, demikian menurut Azrul dalam ulasan yang sama. Faktanya, raungan yang sebenarnya tidak nyaman di telinga itu memang jadi satu alasan penonton memadati sirkuit di tiap seri balapan. Raungan suara yang melengking terdengar jelas meskipun mobilnya sendiri belum melintas di depan tribun kita berada saat menonton langsung. Dan asal tahu saja, raungan yang khas itu justru bikin menonton lewat televisi semakin berkesan. Itu biasanya terjadi saat tayangannya on board dari satu pebalap. Bagaimana sang pebalap mengerem untuk menikung, akselerasi lagi selepas keluar dari tikungan, atau – ini lebih seru – beradu kencang dengan pebalap lain menambah keseruan kita menonton via televisi jika ditingkahi dengan raungan melengking itu.

Siasat yang ditempuh regulator F1 saat banyak penggemarnya protes soal suara yang begitu ‘sopan’ ini dengan modifikasi knalpot sedemikian rupa nyatanya tidak berhasil. Magis mobil F1 memang ada di kapasitas yang “jor-joran” yang kini dengan alasan penghematan harus disunat menjadi jauh lebih mungil. Ditambah dengan balapan F1 yang jauh kurang diminati di Indonesia dibandingkan “kolega” roda duanya, yaitu MotoGP, sehingga tak ada tayangan langsung (kecuali langganan televisi berbayar), F1 rasanya akan makin ditinggal penonton, menyisakan penggemar setianya hanya bisa menggerutu dan mengandalkan YouTube untuk sekadar nostalgia suara.

Penyunatan kapasitas mesin sehingga hasilnya adalah raungan mesin yang tidak gahar lagi ternyata menimbulkan dampak lain. Ukuran mesin yang mungil menjadikan sasis mesin tak perlu dibuat besar untuk mengakomodasinya. Akibatnya pun dari segi ukuran, mobil F1 tak terlihat gagah dan berwibawa lagi, dibandingkan dengan mobil F1 saat masih mengusung mesin V8 atau V10 yang panjang dan bongsor. Kini mobil F1 benar-benar tak ubahnya mobil tamiya yang sedang melaju di sirkuit. Dan entah berkaitan langsung atau tidak, bodi mobil F1 saat ini pun sudah “sepi” dari stiker para sponsor, berbeda sekali dengan era V8 atau V10 yang mobilnya begitu bertabur pesan sponsor dari mana-mana.

Advertisements

9 comments on “Ketika Mobil F1 Kini Sudah Tak Mampu ‘Bernyanyi’ Nyaring Lagi

  1. Pingback: Gagal Rontokkan Ninja 250R, Suntik Mati Euthanasia Sudah Menanti R25 Demi NMax | ArDa

  2. Pingback: Puasa Kemenangan Ferrari Dan Sebastian Vettel Berakhir Di Sepang, Kalahkan Duo Mercedes Yang Dominan | ArDa

  3. Pingback: Acara Baksos Jatimotoblog Tuntas, Insya Allah Bersua Lagi Dalam Halal Bi Halal Jatimotoblog | Arif Dadot

  4. Pingback: Podium Terbaik Tidak Menjamin Rio Haryanto Jadi Sensasi Di Negeri Sendiri | Arif Dadot

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s