Manipulasi Pemikiran Penggemar Sepakbola Indonesia

Olahraga paling populer di Indonesia, tak bisa disangkal lagi, adalah sepakbola. Meskipun MotoGP mulai menanjak popularitasnya di negeri seribu pulau itu, sepakbola akan selalu menjadi yang paling digemari. Ironisnya, karena popularitas teratas itu pula, sepakbola di Indonesia sering dipolitisasi untuk mengumpulkan massa.

-1427738295673

Salah satu penyebab sepakbola Indonesia tak kunjung menuai prestasi hebat – padahal selalu saja ada pertanyaan “apa susahnya menemukan 11 talenta hebat dari 200 juta warga negara Indonesia” tiap kali timnas Garuda gagal melaju ke ajang besar, seperti piala AFF, piala Asia, atau piala Dunia – adalah politisasi itu. Badan tertinggi sepakbola Indonesia direcoki untuk kepentingan pragmatis.

Namun, tiap kali ada segelintir orang yang berusaha untuk memperbaiki, atau maksimal mereformasi sepakbola Indonesia, akan ada suara yang mengatakan seperti ‘jangan ganggu kedamaian pendukung sepakbola”, “kalau tak ada sepakbola, warga negara Indonesia tak ada hibuan” atau bualan-bualan yang sekadar menakuti pikiran pecinta sepakbola. Celakanya kita percaya begitu saja dengan omong kosong dan memilih menggagalkan aksi bersih-bersih itu.

Benarkah kalau sepakbola Indonesia dihentikan, rakyat Indonesia tak ada hiburan lagi? Apakah kalau FIFA memberikan sanksi kepada Indonesia, maka seluruh Indonesia akan stres, depresi lalu rumah sakit jiwa akan sesak? Apakah memang tidak ada alternatif tontonan sepakbola, selain Indonesian Super League itu?

Tentu saja semua pertanyaan itu retoris. Hidup tetap berjalan meskipun sepakbola dihentikan. Pedagang akan tetap menemukan rezekinya meskipun tidak ada pertandingan sepakbola. Lagipula orang Indonesia termasuk mudah dalam beradaptasi. Dan kalau mereka paham aksi bersih-bersih untuk keuntungan jangka panjang, rasanya mereka tidak akan keberatan.

Apalagi, tayangan-tayangan sepakbola pun sudah menjamur. Siaran liga-liga Eropa sudah begitu mudah dinikmati tiap rumah tangga, meskipun terbatas di kotak kaca bernama televisi. Jadi, kini biarkan sepakbola Indonesia memasuki periode hiatus, menjalani hibernasi tak terhingga untuk melakukan sendiri koreksi dari dalam. Luangkan waktu untuk mereka merenungkan apakah sepakbola sudah di jalan yang benar. Sementara membiarkan mereka introspeksi dan kontemplasi, jauhi semua stadion sepakbola Indonesia. Ini bagus untuk menghemat pengeluaran yang biasanya diambil dari uang rakyat.

Advertisements

One comment on “Manipulasi Pemikiran Penggemar Sepakbola Indonesia

Comments are closed.