Ketika Harus Memilih Sunspot

Penulis sudah lupa tema WordPress apa yang pertama kali dipakai saat mulai ngeblog. Pastinya Mystique adalah tema WordPress yang lumayan awet dipakai hingga akhirnya harus kembali berkelana di belantara tema yang bejibun. Mystique waktu itu dipilih saat demam WordAds sedang melanda. Berbekal penjelasan bahwa makin banyak iklan ditampilkan maka pendapatan makin besar, Mystique terlihat makin spesial karena konon bisa pula menampilkan iklan video yang katanya bayarannya lebih besar.

begini tampilan Mystique secara default di daftar tema WordPress

begini tampilan Mystique secara default di daftar tema WordPress

Yahhh, semua kegirangan khas bocah-bocah ingusan itu menjadikan penulis seperti hilang nalar. (ini kok seperti curcol korban penipuan gadget murah ya? :mrgreen: ) Jelasnya, saat sedang utak-atik tema Mystique namun ubahan yang tidak diinginkan tidak tampak, ditambah kebosanan sedang melanda, kembali petualangan di belukar tema WordPress harus kembali dilakoni. Pencarian itu tak berujung bahkan sampai saat ini, sebenarnya. Ketika akhirnya harus settled dengan tema sekarang, Sunspot, mengapa harus memutuskan demikian?

Pertama tentu karena sudah lelah mencari. Lantas, fokus yang harus diprioritaskan. Kalau hanya sibuk dengan tema WordPress, kapan perbarui blog dengan tulisan kekinian? Terakhir, memang Sunspot keren juga kok. Di mana menariknya?

begini tampilan Sunspot secara default di daftar tema WordPress

begini tampilan Sunspot secara default di daftar tema WordPress

Secara default, Sunspot adalah tema WordPress tiga kolom yang didominasi warna gelap. Rasanya keren saja melihat tampilannya yang cenderung misterius. Warna legam cenderung kelam memang punya aura kasih tersendiri. Namun, suasana menyeramkan itu sedikit dinetralkan dengan rona jingga aka oranye. Meskipun berwarna “panas”, jingga di tema Sunspot ini justru mempermanis tampilan blog dengan warna teks abu-abu. Ketertarikan penulis selanjutnya adalah adalah ukuran huruf judul yang tidak terlalu besar seperti beberapa tema WordPress lainnya (misalnya, Skeptical, Blaskan).

Kolom tengah (kedua) Sunspot juga bisa tampil dalam dua layout. Pertama dengan satu postingan mengisi seluruh kolom tengah itu dan kedua satu kolom itu dipecah jadi dua untuk diisi dua postingan berdampingan. Lalu, saat membuat related posts, tampilan berurut postingan di bawah setiap postingan yang sedang dibuka pun rapi dan tidak berantakan seperti di tema Parament. Ini penting kalau kita ingin menyisipkan tema berkaitan di tengah-tengah postingan yang sedang dibuka, meskipun sebenarnya mengganggu kenyamanan membaca 😀

related-post-wordpress

Terakhir, jelas tema Sunspot masih mengakomodasi WordAds dengan triple ads-nya. Jadi, iklan akan tetap muncul di atas, kanan (tidak vertikal seperti menara, melainkan mengotak dengan iklan-iklan di dalam grid), dan di bawah setiap postingan terbaru dan postingan sedang dibaca.

Advertisements
This entry was posted in Transisi on by .

About ardot

Arif Rakhman (a.k.a ardaisme) is an English-Indonesian translator, capable of handling up to 5000 words a day on various topics and fields of interest. Shall you have urgency in translation, he can be contacted at saya@arifdadot.com for further discussion.

One thought on “Ketika Harus Memilih Sunspot

  1. Pingback: Mandheg bersamamu, Twenty Ten | ARIF DADOT

your comment here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s