Jangan Sembarangan Mengakhirkan Sahur Agar Puasamu Lancar Sejak Awal

Sebelum puasa, kita harus makan sahur. Mungkin terdengar sebagai kewajiban, jadi sahur itu sebaiknya dilakukan sebelum kita berpuasa. Memang sahur bukan bagian dari keabsahan puasa kita karena kalau kita tidak sahur namun tetap berpuasa, maka puasa kita itu tetap sah. Tapi sahur itu hukumnya sunnah muakkad yang artinya sangat ditekankan sekali.

“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makanan sahur terdapat barakah” (Muttafaqun ‘alaih)

Mirip seperti memilih Ninja 250 atau skutik low-end saat kita butuh alat transportasi dan kondisi finansial mencukupi untuk menjangkau kedua jenis kendaraan itu. Tentu sangat dianjurkan Ninja 250 karena selain mempercepat transportasi juga menambah kegantengan 😆

Ok. Kembali ke soal sahur. Karena sudah kita ketahui bahwa sahur itu aktivitas pembekalan penuh berkah, maka sayang sekali kalau [sengaja] dilewatkan begitu saja. Tapi, sahur yang sangat ditekankan adalah waktunya mendekati imsak, ibarat sepakbola, mendekati injury time, seperti yang sering disampaikan para penceramah tarawih. Namun, jangan telan-telan mentah anjuran ini. Setidaknya, gunakan nalar kita untuk mencerna anjuran seperti ini yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Pertama, perlu simak hadits berikut ini

Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu melaksanakan shalat. Anas berkata, ‘Aku bertanya kepada Zaid: “Berapa jarak antara adzan dan sahur ?”. Dia menjawab : ‘seperti lama membaca 50 ayat.’  (HR. Bukhari dan Muslim)

Bersandar pada hadits di atas, mengakhirkan sahur tidak serta-merta hanya 10 menit menjelang waktu imsak, misalnya. Apalagi kita tahu kalau bacaan 50 ayat Al-Qur’an secara benar pasti membutuhkan waktu cukup lama, bukan 10 menit. Selanjutnya, cara kita makan adalah mengunyah makanan selama mungkin hingga halus. Lalu, menutupnya dengan minum air putih, jeda sebentar untuk menghela napas agar lambung bersiap-siap mencerna makanan, dan terakhir membersihkan mulut berupa gosok gigi. Untuk itu semua, waktu 10 menit jelas tidak cukup.

Intinya, manajemen waktu di sini sangat berperan. Apalagi kalau ternyata kita berencana shalat subuh di masjid yang jarak tempuhnya cukup jauh, jelas persiapan sahurnya harus sematang mungkin. Karena itu, ketimbang sahur terburu-buru hingga waktu imsak, makan pun tidak tenang sehingga mengunyah pun sekadarnya, dan akhirnya mata pun mengantuk karena badan lelah akibat terburu-buru dan tumpukan makanan di dalam perut, luangkan waktu sejam untuk urusan sahur hingga imsak tiba.

Advertisements

your comment here

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s