Pusing Cari Lawannya Bu Risma? Azrul Ananda Saja!

Untuk pertama kalinya — entah sejak berapa tahun terakhir :mrgreen: — pilkada di Indonesia akan diselenggarakan serentak nanti di akhir tahun ini. Akibatnya, semua daerah tingkat dua dan satu di seluruh Indonesia harus menyiapkan kandidat masing-masing untuk bertarung.

Tri Rismaharini dan Wisnu Sakti Buana mendaftar untuk pilwali Surabaya 2015

Tri Rismaharini dan Wisnu Sakti Buana mendaftar untuk pilwali Surabaya 2015

Kalau ternyata, pasangan yang bertarung dalam pilkada hanya mereka saja, dalam arti tidak ada kompetitor/lawannya, pasangan tersebut bakal dilantik langsung atau pilkadanya yang diundur. Soal ini masih dibahas di tingkat masyarakat dan KPU.

Satu daerah tingkat dua (kabupaten/kota) yang sampai sekarang hanya punya satu kandidat adalah kota Surabaya. Mungkin keder dengan prestasi walikota saat ini yang kembali bertarung, pasangan Tri Rismaharini-Wisnu Sakti Buana tidak ada penantangnya sampai saat ini. Nama walikota Surabaya itu begitu beken terkenal hampir di seluruh Indonesia.

Sederet prestasi menterengnya siap dibentangkan: Dolly sukses dibubarkan, taman Bungkul kembali jadi indah dan cantik, dan secara keseluruhan Surabaya terlihat lebih tertata dan tertib. Walikota Risma pun tak segan turun langsung mengatasi situasi jika dirasa itu mampu menyelesaikan masalah yang ada.

Azrul Ananda pembangkit National Basketball League dan Deteksi Basketball League

Azrul Ananda pembangkit National Basketball League dan Deteksi Basketball League

Namun bukan berarti bu Risma bisa melenggang sendirian untuk kembali jadi walikota. Sebenarnya masih banyak sosok potensial yang bisa bersaing. Satu di antara mutiara yang masih terpendam di kerumunan publik Surabaya adalah Azrul Ananda. Putra salah satu raja media Dahlan Iskan sukses membuat bola basket populer dengan cara elegan dan dinikmati secara elegan pula lewat ajang DBL (Deteksi Basketball League). Sosok ini pula yang menghidupkan lagi liga basket Indonesia dengan nama baru National Basketball League. Prestasinya itu menjadikannya populer di kalangan anak muda, segmen yang banyak jadi incaran saat pilkada dihelat.

Di atas kertas, Azrul bakal jadi pesaing kuat bu Risma. Masalahnya kemudian ada di Azrul sendiri: dia mau tidak dicalonkan? Lantas berikutnya siapa saja (baca: partai politik) yang mau mengusungnya? Ini mengingat kelihatannya calon independen belum diizinkan untuk partisipasi.

Soal parpol ini juga menyulitkan karena Azrul sepertinya terbiasa dengan kebebasan, baik sebagai sosok fisik maupun pemikiran, dalam arti tidak kaku, mungkin cenderung spontan, juga harus kreatif persis bapaknya. Sementara kita tahu parpol itu banyak aturannya, harus sering kirim upeti, patuh dan tunduk, juga harus mau disetir.

Advertisements
This entry was posted in Transisi on by .

About ardaisme

Arif Rakhman (a.k.a ardaisme) is an English-Indonesian translator, capable of handling up to 5000 words a day on various topics and fields of interest. Shall you have urgency in translation, he can be contacted at saya@arifdadot.com for further discussion.

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s