Mengapa belok kiri memang harus mengikuti isyarat lampu?

Belok kiri ikuti isyarat lampu yang menyala” pernah menjadi aturan. Bahkan dalam suatu masa jika memaksa belok kiri saat lampu masih merah, bisa-bisa surat tilang yang diperoleh.

Namun entah mengapa aturan ini hilang tak berbekas seperti kapur barus yang menguar bersama udara πŸ˜€ lewat tulisan saya coba ingatkan lagi di tulisan ini, tapi daa aku mah apa atuh πŸ˜†

Sebenarnya, tanpa sanksi yang diterapkan dalam menegakkan aturan “belok kiri ikuti isyarat lampu yang menyala” itu, juga tanpa menyertakan undang-undang yang menegaskan kalau “belok kiri harus ikuti isyarat lampu yang menyala“, kita pasti paham bahwa memang tidak boleh langsung belok kiri saat lampu masih menyala merah.

Logika pertama jelas adalah lebar jalan raya di Indonesia. Rata-rata, jalanan di Indonesia memiliki lebar yang pas-pasan, hanya cukup menampung satu arus ke sana dan satu arus ke sini. Sedikit sekali jalan raya yang mampu mengakomodasi arus tambahan yang berbelok.

Lihat saja sendiri kalau kita coba belok kiri di pertigaan atau perempatan, pastilah hampir tak cukup ruang bagi kita, kecuali arus yang searah dengan kita berbelok mebiarkan kita duluan. Belum lagi soal risiko keselamatan saat pengendara dari arus yang searah dengan kita berbelok tidak mau mengalah dan malah menggeber kendaraannya.

Persoalan makin pelik terkait “belok kiri ikuti isyarat lampu yang menyala” manakala keputusan kita untuk berhenti, bukan langsung belok kiri akan menimbulkan kemacetan yang mengular.

Jadi, dengan asas mencegah mudarat ketimbang mendatangkan manfaat dalam kasus kemacetan mengular tadi, terpaksa “belok kiri ikuti isyarat lampu yang menyala” diabaikan dan semua pengendara yang belok kiri diperbolehkan belok kiri namun tetap mengawasi situasi arus dari belakang kita.

sumber gambar header: bakulkangkungjpr1.com

Advertisements

10 comments on “Mengapa belok kiri memang harus mengikuti isyarat lampu?

Comments are closed.