Mengapa jembatan penyeberangan semakin ditinggalkan?

Di artikel sebelumnya, sekilas dibahas tips menyeberangi jalan dengan arus lalu-lintas padat. Sayangnya, salah satu sarana yang dibangun untuk memudahkan penyeberangan malah belakangan ini sering tidak dipakai.

salah satu jembatan penyeberangan yang terintegrasi dengan halte transjakarta  sumber: sadmiko.blogdetik.com

salah satu jembatan penyeberangan yang terintegrasi dengan halte transjakarta
sumber: sadmiko.blogdetik.com

Itulah jembatan penyeberangan, yang makin ke sini makin ditinggalkan pejalan kaki, yang lebih memilih memacu adrenalin berjibaku dengan arus lalu-lintas yang ganas.

Meskipun terkesan tidak menghargai itikad pemerintah setempat, para pejalan kaki yang mengabaikan jembatan penyeberangan tidak bisa disalahkan juga. Ada beberapa alasan yang kalau kita pikirkan lagi memang terasa kuat bagi para pejalan kaki untuk terpaksa tidak memanfaatkan jembatan penyeberangan.

Pertama adalah kenyamanan secara umum. Jembatan penyeberangan kini tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Penyebabnya antara lain adalah pengemis yang menyesaki lorong jembatan penyeberangan. Bahkan terkadang ada pemotor nekad yang turut menggunakan jembatan penyeberangan hanya untuk menghindari kemacetan.

Berikutnya adalah soal kebersihan. Pernah melihat pejalan kaki menutup hidungnya rapat-rapat saat menuruni jembatan penyeberangan? Itu karena bau pesing menguar di sekitar jembatan penyeberangan. Sampah pun terlihat menggunung, dari sesama pejalan kaki yang terlalu malas atau gelandangan yang sering tidur di situ.

Terakhir adalah soal keamanan. Kejahatan mengintai di jembatan penyeberangan yang jarang dilalui pejalan kaki. Jika bukan perampok, penodong, atau penjambret, seringkali terjadi kasus “anjing duduk” alias asusila terutama terhadap perempuan dan wanita.

Keadaan yang memprihatinkan itu hampir selalu menghiasi jembatan penyeberangan, menjadikan prasarana ini hampir tidak dipakai lagi oleh para penyeberang.

 

Advertisements

3 comments on “Mengapa jembatan penyeberangan semakin ditinggalkan?

Comments are closed.