Advertisements

Kata Lorenzo, Semangka kulitnya hijau apa isinya pasti hijau juga?

Seri MotoGP yang dihelat di sirkuit Aragon sukses menghasilkan banyak cerita yang layak dituangkan dalam tulisan. Kemenangan mutlak yang dikemas Jorge Lorenzo turut dihiasi oleh Marc Marquez yang mengalami crash di awal balapan.

Balapan Aragon juga jadi saksi ketangguhan Dani Pedrosa yang sukses membendung serangan Valentino Rossi untuk membawa pulang podium kedua dan menyisakan Rossi yang harus puas di peringkat ketiga.Ketika Lorenzo merayakan kemenangannya dengan menancapkan benderanya di Lorenzo‘s Land, dunia motorsport (mungkin) lebih suka membahas pertarungan atraktif antara Pedrosa dan Rossi, menyebutnya sebagai sisi paling menghibur dan itulah yang harus ada dalam balapan MotoGP.

Lantas, publik motorsport bakal dengan mudah menuding Lorenzo sebagai perusak sisi hiburan MotoGP karena hanya mengutamakan kemenangan tanpa ada sisi hiburan, terlihat dari dominansinya sepanjang balapan.

Faktanya, orang membalap di suatu balapan pasti mengincar kemenangan. Dan mengingat posisinya memang sudah di depan, tentu di benak Lorenzo hanyalah bagaimana mempertahankan posisi ini senyaman mungkin.

Lagipula, saat Lorenzo tidak di urutan satu, ia toh mati-matian juga mengejar ketertinggalannya hingga sering terlibat duel menarik dan menegangkan (kamu pasti lupa “tragedi” Catalunya dan Motegi 😆 )

Dan, kalau memang masih ngotot menuding Lorenzo tidak punya sisi entertainment layaknya Rossi, kita perlu kenali lebih dalam kepribadian Lorenzo. Kebetulan saya pernah jadi kontributornya TMCBlog untuk menerjemahkan artikel “tamu” dari Manuel Pecino, jadi muncullah “buah semangka” di judul tulisan ini.

Sang wartawan, Pecino, mengurai perjalanan kehidupan tiga superstar MotoGP asal Spanyol: Lorenzo, Pedrosa, dan Marquez. Masa kecil Lorenzo mungkin termasuk yang kurang bahagia. Lorenzo tumbuh di bawah ambisi ayahnya untuk memiliki anak yang selalu nomor satu dalam balapan.

Ditambah kehilangan ibu yang bercerai dari ayahnya, Lorenzo kecil bisa jadi tertekan jiwanya, hal yang kini tampak dalam kepribadiannya yang cenderung dingin tapi suka juga meledak-ledak tanpa mampu mengendalikan emosinya.

Kombinasi masa kecil yang “pincang” tanpa kasih sayang ibu dan tekanan hebat dari sang ayah agar jadi juara agaknya membentuk Lorenzo yang kini tidak peduli pada orang lain, bahkan mungkin juga sisi bisnis dan komersial yang sebenarnya turut membiayai karirnya. Jadi yang ada di benaknya adalah bagaimana melesat secepat mungkin, memimpin sejauh mungkin, dan mengakhiri balapan dengan jadi pertama melintasi garis finis.

Advertisements

About ardaisme

Full-time Translator. 5000-word translation work everyday is not sensational achievement to be proud of. Dare to give more words to me to conquer? ring my whatsspp 082143168889 or PING! me 5FAA2CB4

13 responses to “Kata Lorenzo, Semangka kulitnya hijau apa isinya pasti hijau juga?”

  1. John_Hendy says :

    Sedih bacanya

  2. arif dadot says :

    Affordable English-Indonesian Translator

    Arif Rakhman Professional English-Indonesian Translator Contact: WhatsApp 082143168889 BBM 553AA755 E-Mail arifnrakhman@gmail.com

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s