Tanpa Gambar, Cukup Dibayangkan Saja

Saat itu hujan deras. Sebelumnya sudah ada pertanda. Mendung tebal menggantung di langit. Sebagai balasannya, kami sudah menyiapkan mantel hujan. Posisi kami saat itu berada di depan Hotel Purnama, menunggu kedatangan rombongan dari Lawang. Tak lama kami semua sudah meluncur.

Memuntir gas pun sangat hati-hati di ketinggian yang terus menanjak di tengah rinai hujan yang terus mengguyur. Perjalanan mendaki Cangar dalam guyuran hujan sedang tak ubahnya balapan MotoGP di cuaca yang sama: tak ada ingin untuk menyalip, meski posisi sudah ideal.

Langit di atas makin gelap. Bukan mendung tebal yang tak mau lenyap. Tapi senja yang datang menyergap. Maka kami semua berteduh di masjid yang hangat. Sambil menunggu panggilan shalat.

Perjalanan dilanjutkan. Ketika perut sudah dikenyangkan. Di jalanan yang penuh kelokan. Naik turun tanjakan. Namun tak perlu kelabakan. Meski tanpa lampu penerang, konsentrasi tetap tenang. road captain di depan jadi pandu. Kami di belakang tetap padu.

Ketika tiba di Pacet dengan utuh, semua kekhawatiran pun runtuh. Kini tinggal menunggu. Jemputan yang katanya akan memandu. Menuju vila yang teduh.

Advertisements

8 comments on “Tanpa Gambar, Cukup Dibayangkan Saja

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s