Waspadai Mantra Sakti AHM

Yamaha Nmax jadi pelopornya. Hadir ketika Mio series sudah tak mampu lagi mengejar Honda BeAT, apalagi mendongkel Vario series. Ndilalah, Pasar positif menyambut hadirnya Yamaha NMax. Konsumen yang berebut Yamaha NMax seperti kita menggemari pisang goreng menggerakkan YIMM merilis tandem Yamaha NMax. Maka di sinilah Aerox dibrojolin. Kembali, Yamaha Aerox meraup hasil yang persis dipanen Yamaha NMax. Sadar dengan konsumen yang sudah jenuh dengan skutik itu-itu saja, YIMM terus menggoda konsumen yang sedang sakauw skutik bongsor. Maka, Xmax pun melengkapi euforia Maxiscooter YIMM.

AHM di pihak seberang, boleh menyatakan tak terpengaruh. Beda segmen, beda peruntukan, begitu kira-kira dalih yang diajukan. Sikap AHM macam ini persis YIMM (d/h YMKI) waktu Mio masih jaya kendati Honda BeAT mulai merangkak populer. “Belum jadi ancaman” kurang lebih itu yang tersirat dari pernyataan petinggi AHM. Tapi seperti Juventus F.C. yang langsung mengharapkan adu penalti padahal babak pertama belum juga usai saat Mario Mandzukic menyarangkan gol ke gawang Keylor Navas untuk menyamakan skor, pernyataan yang sok diplomatis itu bisa jadi bumerang dan berbalik melukai diri sendiri.

Cuma, untungnya, AHM masih punya “kartu” sakti. Bukan berwujud Honda Forza seperti yang ramai diberitakan. Bukan pula berupa Honda PCX rakitan lokal yang sudah ramai dipergunjingkan namun ternyata nol besar. Melainkan sebuah pernyataan yang efeknya sangat dahsyat dan bisa mengubah pasar. Seperti apa?

Coba layangkan ingatan kita pada tahun-tahun saat AHM dan YIMM (d/h YMKI) berduel sengit. Waktu masa-masanya Tiger 2000 lagi dominan dan Megapro sedang laris-larisnya. Sebagian konsumen menginginkan agar AHM menghadirkan produk yang lebih besar lagi displacementnya, jadi 250cc. Waktu itu rumor sudah ditiupkan bahwa modelnya bakal begini begitu, namun tidak jauh-jauh dari garis desain si Tiger 2000.

Tapi AHM membalasnya cukup dingin, kalau tidak mau dibilang ketus, bahwa

Motor 250cc tidak cocok di Indonesia

Penafsirannya bisa macam-macam. Mungkin AHM mau kalau konsumen nikmati saja produk-produk yang sudah disediakan. Mungkin pula AHM tidak mau repot-repot bangun assembly line untuk produksi motor baru itu. Mungkin juga AHM melihat infrastruktur masih belum memadai (sampai sekarang nyatanya juga masih compang-camping).

Apa pun itu, publik sendiri yang memergoki (kalau memang publiknya aware) bahwa omongannya AHM itu malah berbalik sendiri. AHM takluk pada pasar, menuruti konsumen, dan akhirnya bikin juga motor 250cc. Horeeeeeee…….. Gilanya lagi, sekarang justru AHM leading di segmen motorsport 250cc, baik di balapan maupun penjualan via CBR250RR.

Jadi sekarang bayangkan betapa dahsyatnya efek paradoksial pernyataan AHM tadi. Bahwa kenyataan terjadi usai pernyataan dilontarkan ternyata berbeda 180 derajat, namun malah menguntungkan. Menarik ditunggu ada pernyataan seperti ini,

Skutik dek tidak rata tak cocok di Indonesia

Lalu, voilaaaaaaaa……… tak lama berselang setelah pernyataan itu dilontarkan, AHM pun kembali leading di kelas maxiscooter. Berani terima tantangan ini? 😆

Arif Rakhman

Contact:
WhatsApp 082143168889
BBM 2AFED241
Advertisements

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s