Guy Martin Magang Sebagai Kru Pitstop Williams Martini Racing Di Grand Prix Belgia — Spa-Francorchamps

Guy Martin. Nama ini mungkin kurang menggema di Indonesia. Kendati sama-sama pembalap motor, Martin masih kalah populer dari para tokoh sentral MotoGP. Meskipun demikian, Martin dalam beberapa hal sebenarnya berada di level lebih tinggi dari para pembalap MotoGP yang punya basis pendukung lebih solid di Indonesia.

 

williams martini racing

Williams Martini Racing

Belum lama ini, Martin terlihat menjadi kru pitstop tim Williams Martini Racing. Terlihat seperti sebuah acara promosi, Martin pada dasarnya benar-benar melakoni pekerjaan sebagai anggota pengganti ban tim Williams Martini Racing. Martin hanya hanya diberi satu bulan untuk mengakrabkan dirinya dengan dunia kerja yang sama sekali baru baginya – meskipun dalam beberapa hal ada kesamaan dengan pekerjaannya sebagai mekanik truk.

 

Martin diberi arahan singkat secara teori. Lantas langsung diterjunkan dalam praktik. Kendati masih berupa simulasi, Martin pada awalnya jelas masih canggung. Beberapa kali ia melakukan kesalahan yang itu masih ditoleransi sesama kru yang lebih berpengalaman. Tapi di sini terlihat karakter Martin, juga sikap yang sebaiknya kita tiru lantas diperlihatkan saat bekerja.

Martin orang yang mau mendengar dengan cara saksama. Lantas tekun dalam berdiskusi untuk mencari tahu titik kelemahan, lantas memperbaiki dan kalau perlu menyempurnakannya. Dari sesi seperti itu, Martin menyerap banyak hal untuk meningkatkan kemampuannya sebagai pitstop crew.

 

Satu bulan lamanya Martin ditempa sebagai kru pitstop hingga akhirnya tiba event baginya untuk benar-benar mempraktikkan semua yang ia ketahui selama menjalani apprenticeship bersama Williams Martini Racing. Sirkuit Spa-Francorchamps tempat Grand Prix Belgia dihelat akan menguji kemampuannya. Tak lupa sebuah helm khusus dibuatkan untuk Martin menandai bergabungnya ia ke dalam dunia kerja yang benar-benar baru yang menguras energi dan membutuhkan konsentrasi total.

 

Martin bersiap. Semua kru bergegas. Ketika race engineer Williams Martini Racing memanggil salah satu pembalapnya untuk masuk pit, Martin dan rekan-rekan berhamburan untuk menempati posisinya di kotak pitstop. Betapa pun tekunnya berlatih dan akhirnya terbiasa dengan atmosfer pekerjaan ini selama simulasi, Martin tak bisa menyembunyikan kegugupannya menyambut mobil Williams Martini Racing untuk diganti bannya. Martin bertanggung jawab membawa ban kiri belakang berikut menampani ban yang sama setelah dicopot.

Proses pitstop nyatanya berlangsung sukses dengan Martin dan rekan-rekan berhasil mencatatkan waktu 2,5 detik. Jelas tidak secepat Guido, tapi itu termasuk pencapaian besar.

guy martin after tyre changing

Martin, pada akhirnya, dipuji tidak hanya karena kecepatannya dalam mempelajari hal baru serta menerapkannya dengan baik, tapi juga karena kemampuannya untuk berbaur dengan baik dengan sesama kru pitstop kendati baru sebulan bergabung.

 

Arif Rakhman is a translator, working on English-Indonesian language pair. He is capable of 5000-word translation a day with various expertises and subject matters. You can contact him for inquiry through saya@arifdadot.com

Advertisements

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s