Hari Ini Pertamax cs. Naik, Nanti Juga Turun Lagi

Di antara kabar yang menyeruak ketika bulan berganti dari Juni ke Juli adalah soal kenaikan harga Bahan Bakar Minyak. 1 Juli 2018 menandai naiknya harga bahan bakar yang sudah melekat dalam kendaraan masyarakat. Pertamax, yang sudah menjadi favorit beberapa kalangan, mengalami kenaikan yang cukup besar, Rp.600 dari Rp.8900 sekarang diniagakan menjadi Rp. 9500 per liter. Selain itu, Pertamax Turbo sekarang menjadi Rp. 10.700 per liternya. Di sisi lain, BBM untuk kendaraan bermesin diesel turut mengalami kenaikan. Dexlite kini harganya Rp. 9000 per liter dan Pertamina Dex menjadi Rp. 10.500. 

Tentu saja kenaikan ini direspons warga sama seperti biasanya. Kendati sudah bukan BBM jenis subsidi, tetap saja masyarakat melakukan aksi sambat, ngersulo nasional. Tentu ini wajar karena selain harus merogoh kantong lebih dalam, barang-barang lain berpotensi terkoreksi pula harganya akibat kenaikan harga BBM.

Argumen yang bisa diajukan dari kenaikan ini adalah bahwa mekanismenya mengikuti pergerakan harga minyak global. Tapi ini lantas dibantah bahwa minyak dunia sedang tidak mengalami kenaikan. Memang sejak harga BBM non-subsidi diserahkan mengikuti mekanisme pasar, masyarakat bisa mengantisipasi kenaikan harganya dengan memantau pergerakan harga minyak dunia.

Tapi jangan lupa juga kalau ada hukum ekonomi dasar bahwa ada penawaran ada permintaan. Begitu juga sebaliknya. Kalau penawaran lebih tinggi dari permintaan, biasanya harganya lebih murah. Sebaliknya kalau permintaan lebih tinggi dari penawaran, jelas harga bakal naik, pelan-pelan atau meroket.

Mungkin saja harga minyak dunia stabil dan tidak ada pergerakan. Tapi karena konsumsi BBM yang mengalami kenaikan itu terus bertambah, harga jualnya pun menyesuaikan. Kita tidak tahu secara detail persediaan BBM non-subsidi tersebut atau biaya produksi yang dikeluarkan untuk mendatangkan BBM non-subsidi.

Tapi kalau kita berpikir dari segi ekonomi paling dasar soal permintaan dan penawaran, mungkin kita bisa memahami kenaikan BBM non-subsidi ini. Dengan begitu ada kemungkinan BBM non-subsidi tersebut akan diturunkan lagi harganya.

Ketika BBM non-subsidi mengalami kenaikan, masyarakat mencari alternatif yang lebih murah. Dan tidak bertepuk sebelah tangan, karena premium sebagai BBM paling favorit mayoritas warga kembali disediakan setelah lama menghilang. Ini berarti konsumsi premium bakal meningkat dan pertamax perlahan-lahan ditinggalkan. Kalau sudah begitu, mungkin ganti premium yang akan dinaikkan harganya dan pertamax yang kurang diminati diturunkan harganya.

Tentu saja situasinya tidak bisa disederhanakan seperti itu. Tapi yang terbaik untuk saat ini, hanya bisa pasrah merespons kenaikan harga BBM non-subsidi tersebut. Pastinya mari beralih dulu ke premium beberapa saat. Kalau khawatir performa sedikit menurun, coba oplos dengan pertamax dengan komposisi lebih banyak premium.

Advertisements

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s