Antara Nokia 1 Dan Honda Forza 250

antara Nokia 1 Dan Honda Forza 250 tidak ada hubungan bahwa, misalnya, dengan membeli Honda Forza 250 dapat satu unit Nokia 1 secara gratis. Mungkin saja era bundling seperti itu sudah berlalu. Orang beli motor tidak perlu iming-iming barang elektronik sebagai pemikat tambahan. Cukup Down Payment murah gratis angsuran sekian kali tampaknya sudah lebih dari yang dibutuhkan saat menebus satu atau beberapa unit motor. Oke, kembali ke judul. Barangkali kalau tetap memaksa untuk menemukan persamaannya, itu adalah soal pembicaraan di internet. Baik Nokia 1 maupun Honda Forza 250 tampaknya termasuk hottest item yang paling sering dibahas dan karena itu sangat dinantikan kehadirannya. Namun, karena menjadi most searched keyword di mesin pencari atau media sosial itulah yang menjadi bahasan kali ini.

Sekilas membahas Nokia 1, ponsel ini ditenagai oleh prosesor rendah dari Mediatek, MT6737M. RAM yang dipasang di ponsel Nokia 1 ini pun sangat enggak banget di 2018, hanya 1 GB. Layarnya pun sudah oldschool, hanya 4,5 inch dengan resolusi FWVGA yang jauh ketinggalan dari standar yang ngetren hari-hari terakhir. Yang mungkin bisa dibanggakan hanyalah dengan spesifikasi pas-pasan seperti ini, Nokia 1 boleh berbangga hati karena mampu mengusung Android Oreo (Go) terbaru (sampai saat ini setidaknya) di saat ponsel-ponsel yang spesifikasinya berlipat-lipat dari Nokia 1 cuma maksimal sampai Lollipop 5.1. Nokia 1 saat ini dibandrol Rp.999.000.

Sementara itu, di seberang sana, Honda Forza 250 telah lama digadang-gadang sebagai lawan pilih tanding maxiscooter series punya Yamaha. Ada rumor bahwa penantang Yamaha NMax adalah Honda Forza 150 namun faktanya sekarang Honda Forza 250 telah siap menantang dominasi Yamaha XMax 250. Honda Forza 250 punya semua amunisi yang diperlukan untuk meredam atau bahkan mengalahkan Yamaha XMax 250, yang semua itu sudah dibahas tuntas via ulasan vlogging maupun uraian di banyak blog ternama.

Dalam hubungan yang tampaknya mustahil untuk ditemukan titik temunya, Nokia 1 dan Honda Forza 250 faktanya bisa membentuk diagram venn. Meskipun Honda Forza 250 dibandrol jauh dari Nokia 1 (bisa dapat sekira 70 unit Nokia 1), keduanya masih bisa menghasilkan persamaan. Ini soal potensi kesulitan untuk memasarkan keduanya.

Nokia 1 tampak akan mudah terjual lazimnya kacang rebus saat ada pentas seni atau Orkes Melayu manggung. Faktanya, dalam situasi yang serba mending-mending” yang didoktrin oleh merek Xiaomi publik terlihat begitu sensitif terhadap harga berbanding spesifikasinya. Di sisi lain, tampaknya sulit juga untuk menjual Honda Forza 250 selaris Yamaha XMax yang sudah lebih dulu tertanam di benak publik otomotif bahwa skutik 250cc seharusnya begini dan begitu.

Tetapi, bukankah Honda Forza 250 disebut-sebut laris manis selama perhelatan GIIAS 2018 yang baru saja berlalu? Memang itu fakta yang tidak bisa disangkal, tetapi bisa dipastikan mereka yang membawa Honda Forza 250 adalah kalangan yang tidak “terganggu” dengan harga bandrol Honda Forza 250. Dengan kata lain, mereka ini sudah mencicipi berbagai jenis motor dan Honda Forza 250 menjadi motor terbaru yang mengusik rasa penasaran mereka. Jangan tawarkan konsep dan pola pikir mending-mendingkepada karena itu terasa seperti menggarami air laut.

Di segmen “mending-mending” inilah Nokia 1 maupun Honda Forza 250 menemukan nasib yang sama. Keduanya perlu diperjuangkan untuk bisa menjangkau konsumen terbesar di marketplace secara umum. Mereka yang langsung beli Honda Forza 250 saat diluncurkan resmi di GIIAS 2018 tak banyak, seperti juga kalangan yang sudah terbiasa dengan ponsel high end ingin sekadar mencicipi seperti apa Android Oreo Go di Nokia 1.

Yang ada di benak mereka itu adalah harga segitu (999ribu untuk Nokia 1 dan 70 juta yang dipasang di Honda Forza 250) kalau ditambah sekian lagi atau dibelikan motor yang lebih punya value rasanya lebih masuk akal. Apalagi di ranah otomotif yang di Indonesia motor yang ditawarkan dalam kondisi baru maupun bekas sudah sangat beragam dan rentangnya sangat lebar namun dengan interval (misalnya harga) yang sempit. Belum lagi ditambah kebutuhan kendaraan yang bisa menghindarkan dari panas dan hujan namun dengan harga yang sangat mepet (yaitu, motuba).

Mungkin nama besar di balik Nokia 1 maupun Honda Forza 250 ini bisa membantu, tetapi di tengah persaingan yang semakin ketat kerja lebih keras sangat diperlukan agar publik bisa berhasil diyakinkan untuk membawa pulang entah satu unit Nokia 1 atau Honda Forza 250.

Atau, sebagai bentuk kepasrahan pamungkas, hanya bisa mengandalkan pada tren depresiasi, yaitu ketika sudah berjalan beberapa saat dari masa peluncuran resminya, pihak prinsipal mengadakan koreksi harga (yang lebih rendah) agar Nokia 1 maupun Honda Forza 250 kelak terlihat lebih menarik untuk segera ditebus.

Advertisements

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s