Benarkah Indonesia Sudah Siap Menyelenggarakan MotoGP?

Pembatalan balapan BritishGP di Silverstone kemarin malam waktu Indonesia memunculkan pertanyaan mendasar: Benarkah Indonesia sudah siap menyelenggarakan MotoGP? 

Memang Indonesia belum akan memanggungkan balapan MotoGP dalam waktu dekat. Sirkuit yang representatif juga belum jelas wujudnya, apalagi tanggal konfirmasi masuk kalender balap MotoGP. Namun, di luar itu semua antuasisme publik Indonesia yang begitu menggebu menjadi alasan kuat satu seri balapan MotoGP harus dipanggungkan di Indonesia. Di sinilah sekaligus hambatan utamanya.

Kembali ke BritishGP Silverstone yang dibatalkan semalam. Jelas satu kata yang bisa mewakili semua oang yang ada di situ: kecewa. Jangan bilang hanya penonton yang kecewa. Para pembalap juga sama. Mekanik juga sama. Jangan cuma lihat dari uang yang dikeluarkan untuk beli tiket. Lihat juga mekanik yang sudah mempersiapkan balapan BritishGP Silverstone ini bahkan sejak seri Austria baru berakhir. Lihat juga pembalap yang sudah siap sejak hari Kamis. Lalu setel motor dan jajal sirkuit mulai Jumat. Sekarang semua harus dibatalkan. Itu pun setelah berjam-jam berada dalam ketidakpastian.

Kembali ke konteks memanggungkan balapan MotoGP di Indonesia dengan pertanyaan yang sama. Apakah Indonesia, dalam hal ini para penonton, sudah siap menerima keadaan seperti itu? Kita sudah sama-sama tahu, sudah banyak kejadian di media mana saja: koran, berita online, rekaman video di media sosial (Facebook, YouTube), bahwa jika suatu event olahraga tidak berjalan sesuai maunya penonton, pasti mereka menimbulkan kericuhan. Contoh paling baru adalah bangku-bangku penonton di stadion Jakabaring harus tercabut dari dudukannya karena penonton tidak puas Sriwijaya FC menderita kekalahan.

Jika satu seri MotoGP berhasil didaratkan di Indonesia namun mengalami situasi seperti BritishGP di Silverstone seperti tadi malam, bisakah publik Indonesia menerimanya? Jika penyelenggara memutuskan kejadian tersebut sebagai force majeuru yang berarti sesuatu di luar kendali penyelenggara atau Event Organizer, bisakah penonton menerimanya dengan tidak menuntut refund tiket? Sebaliknya jika dinyatakan bahwa itu salah penyelenggara, bisakah mereka langsung memproses refund tiket tanpa bertele-tele, apalagi berdebat di media elektronik berpuluh-puluh episode tanpa kepastian mendapat titik temu?

Kalau melihat polemik yang berkepanjangan, meskipun sama sekali tidak terkait dengan perhelatan MotoGP di Indonesia, bisa dipastikan Indonesia belum siap menyelenggarakan seri balapan MotoGP. Dan harap dicatat itu hanya menyorot satu aspek. Belum aspek-aspek lain yang berhubungan dengan faktor teknis penyelenggaraan MotoGP.

Advertisements

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s