Memilih Oppo Adalah Sebuah Keputusasaan

Ada banyak smartphone Android belakangan ini. Dan bukan hanya per merek, seiring dengan membanjirnya smartphone Android, satu merek bisa merilis beberapa varian dari satu macam smartphone. Belum lagi satu merek dipecah jadi sub-merek, semakin menambah kebingungan calon pengguna. Dan tampaknya Oppo diuntungkan oleh kekacauan pasar Android yang merajalela jumlahnya. Atau sebuah keputusasaan?

Kita seringkali meremehkan merek Oppo. Tak lain karena sebagai individu yang menginginkan setiap Rupiah yang dikeluarkan tidak terbuang sia-sia, kita ingin spesifikasi yang mumpuni. Xiaomi yang mengawali tren ini. Mereka merilis smartphone murah meriah dengan spesifikasi di atas harga banderol. Dan Oppo di sisi lain babak belur dihajar oleh konsumen yang sama. Alasannya jelas: harga yang dibanderol tidak sepadan dengan spesifikasi yang diusung. Atau spesifikasi rendahnya dibanderol begitu tinggi.

Namun tahukah kita, bahwa dengan menjamurnya smartphone android dengan spesifikasi mirip, kita makin lelah membandingkan-bandingkan? Tentu saja keletihan mental itu terjadi karena kita tidak pernah kunjung eksekusi membeli, malah sibuk terus membanding-bandingkan. Dan lagi-lagi Xiaomi bisa jadi penyebabnya. Ketika kita sudah mantap dengan ponsel Xiaomi ini, beredar kabar Xiaomi terbaru dengan spesifikasi lebih tinggi sudah dirilis. Padahal itu di India sana. Memang kemungkinan besar akan dirilis juga di Indonesia namun tanpa kepastian.

Keletihan mental semacam itu tampaknya dieksploitasi betul oleh para promotor Oppo. Tenaga penjualan offline garda terdepan itu gencar merayu calon pengguna yang sekilas terlihat cukup terdepan soal pengetahuan gawai Android.

Di pikiran mereka sudah tertanam bahwa ponsel Android yang efisien namun “menang banyak” adalah Xiaomi. Namun orang yang sama ini pula lupa bahwa mereka pun telah lelah dipermainkan spesifikasi di atas kertas saat gencar membanding-bandingkan. Kondisi kebingungan inilah yang dieksploitasi betul oleh para promotor Oppo sehingga berhasil melego produk jualan mereka.

Mengapa bisa terjadi? Tentu saja karena sudah lelah dengan perdebatan mental di pikirannya sendiri. Misalnya mantap memilih Redmi Note 8 Pro. Terutama karena spesifikasi serba lengkap di harga 3 juta, baik dari prosesor (Mediatek G90T yang tercepat, hampir menandingi Snapdragon 845), fitur (sudah ada NFC). Namun karena kembali mempertanyakan dirinya apakah seorang gamer maniak dan tidak melulu bepergian via jalan tol (apalagi NFC di Redmi Note 8 Pro hanya sekadar memeriksa saldo e-toll, bukan langsung bayar dengan Redmi Note 8 Pro), ia mengalami kelelahan mental.

Dalam kondisi bimbang padahal lagi di keramaian dikeroyok promotor Oppo menawarkan Oppo A92, keputusannya adalah mencari ATM terdekat untuk menarik sejuta lagi demi menebus Oppo A92. Sejuta itu bukan sebuah pemborosan. Melainkan pereda kebingungan mentalnya yang sudah meletihkan pikirannya yang selalu dipenuhi dengan berbagai pertimbangan namun belum juga melakukan pembelian.

Ternyata setelah benar-benar beli, meskipun ternyata akhirnya Oppo A92, hilang semua kegalauan dan dapat kembali produktif. Meskipun terutama tidak dapat NFC dan prosesor Snapdragon 665 masih bisa memainkan game-game kekinian sejuta umat, bonus lain diperoleh dari pembelian Oppo A92, kalau tidak salah seperti True Wireless Stereo ENCO, dual stereo speaker, dan kamera yang bisa diandalkan untuk membuat konten YouTube.

your comment here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s