2020 F1 Drivers Line Up

First of all, we need to clear it up for 2020 F1 Drivers Line Up. They are as follow:

!

Advertisements

Tanpa Kumandang Indonesia Raya, Pembalap Merah Putih Juarai Formula 1

Dalam kejuaraan Formula 1 yang dilakukan di sirkuit Spa Francorchamps, pembalap merah putih menjejak podium pertama. Tanpa kumandang Indonesia Raya, bendera merah putih berkibar di perhelatan Grand Prix Belgia 2019.

Pembalap Merah Putih Charles Lecrerc memulai balapan Grand Prix Belgia dari pole position. Mengawali balapan di sirkuit Spa Francorchamps tanpa kesalahan, Lecrerc terus melaju terdepan tak terkejar. Balapan sepanjang 44 putaran itu sukses menandai kemenangan perdana Charles Lecrerc di kancah Formula 1.

Kendati merah putih berkibar di podium pertama, tak terdengar kumandang lagu Indonesia Raya. Maklumlah karena meskipun Merah Putih, Lecrerc sebenarnya berkewarganegaraan Monako yang memiliki bendera yang sama seperti Indonesia.

Pembalap Merah Putih Juarai Formula 1 Di Spa Francorchamps

Pembalap Merah Putih berhasil jadi yang pertama melintasi garis finis di sirkuit Spa Francorchamps. Dalam kejuaraan Formula 1 di Grand Prix Belgia itu, sang pembalap merah putih itu mengalahkan dua pembalap Mercedes. Ini adalah kemenangan pertama pembalap merah putih itu.

Charles Lecrerc, si pembalap merah putih itu, membalap dari posisi terdepan. Mengawali balapan dengan sempurna, pembalap merah putih itu langsung melesat. Di belakangnya, rekan setim pembalap merah putih itu, Sebastian Vettel, sempat disalip Lewis Hamilton, pembalap Mercedes. Namun tak sulit meraih kembali posisi kedua bagi pembalap Jerman itu di jalur lurus berkat kecepatan Ferrari yang mengagumkan.

Lecrerc sang pembalap merah putih itu tetap nyaman memimpin balapan. Konsistensi pembalap merah putih itu memimpin balapan tak lepas dari bantuan Vettel. Rekan setim pembalap merah putih itu sukses meredam Hamilton yang terus mendapat momentum untuk menyalip pembalap merah putih itu.

Setelah berlangsung selama 44 putaran, Lecrerc pembalap merah putih jadi yang pertama melintasi garis finis. Di belakangnya ada Hamilton yang harus puas jadi runner-up kendati kecepatannya terus membaik. Podium terakhir dikunci pembalap Mercedes lainnya asal Finlandia, Valtteri Bottas.

Charles Lecrerc pembalap merah putih itu mendedikasikan kemenangan perdana di Formula 1 itu untuk mendiang sahabat Anthoine Hubert.

Merah Putih Berkibar Pertama Kalinya di Balapan Formula1

Ini adalah sebuah sejarah. Bendera merah putih untuk pertama kalinya berkibar di kejuaraan balapan bergengsi. Adalah Formula1 yang mengizinkan merah putih berkibar. Dan tak tanggung-tanggung pula. Merah putih yang berkibar itu menempati podium satu. Bendera merah putih diapit oleh dua negara yang sangat terkenal di dunia balap. Di kiri ada bendera Union Jack dan sebelah kanan bendera Finlandia.

Namun kebanggaanmu tampaknya harus ditahan dulu. Luapan kegembiraanmu jangan dulu ditumpahkan. Melihat merah putih berjaya di lintasan Formula1, sayangnya bukan mewakili tanah air Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.

Merah putih itu milik Monako, negara mini yang kejepit di Prancis. Adalah Charles Lecrerc yang mengibarkannya. Itu setelah pembalap Monako yang memperkuat Scuderia Ferrari jadi yang pertama melintasi garis finis. Balapan sendiri dilangsungkan di tanah Belgia di sirkuit Spa Francorchamps.

Di belakangnya tak begitu jauh berselang adalah Lewis Hamilton dari Inggris Raya yang memperkuat tim Mercedes. Podium terakhir dikunci oleh pembalap Mercedes pula asal Finlandia, Valtteri Bottas.

Mungkin Menpora tertarik menaturalisasi Lecrerc? Agar kalau kelak dia menang lagi, lagu kebangsaan yang berkumandang adalah Indonesia Raya?

Formula E Sebaiknya Dibatalkan Saja

Mengapa formula E sebaiknya dibatalkan penyelenggaraannya di Jakarta?

Alasan paling utama adalah formula E tidak mendatangkan keuntungan dan manfaat melebihi ongkos yang harus dibayar.

Ongkos formula E sangat menguras anggaran tapi apakah keuntungan dan manfaat yang diperoleh setimpal bahkan lebih? Tentu tidak.

Jika alasannya untuk mempromosikan kendaraan listrik, maka formula E bukan opsi yang tepat.

Formula E seperti juga Formula1 adalah ajang untuk adu canggih yang hampir mustahil diterapkan di produksi massal. Jika ada peluang ke sana, produk yang dihasilkan akan sangat mahal harganya.

Sekarang mari kita periksa dampak yang ditimbulkan formula E.

Formula E sedikit berbeda dari Formula1 karena tidak menjadikan sirkuit permanen sebagai lintasan balap.

Formula E memanfaatkan jalan raya yang sudah jadi sebagai arena balapnya.

Jika konteksnya adalah Jakarta maka berarti akan ada jalan yang ditutup.

Jalan yang ditutup itu padahal sehari-hari merupakan jalur sibuk dilewati banyak kendaraan.

Karena itu pasti harus diadakan rekayasa lalu lintas. Seperti biasa di kota mana pun di Indonesia kalau ada rekayasa lalu-lintas akan menimbulkan kemacetan.

Hari-hari biasa yang normal kemacetan yang ditimbulkan sudah begitu menyiksa. Sekarang ditambah ada jalan penting yang harus ditutup. Kemacetan niscaya semakin parah.

Kita biarkan urusan rekayasa lalulintas dan kemacetan menjadi beban kepolisian. Sekarang kita periksa dampak lain yang dipicu hadirnya formula E.

Formula E akan menyebabkan peredaran minuman keras minuman beralkohol. Mengapa begitu?

Hampir semua personel di setiap tim formula E adalah bule. Dan kita sudah paham betul kebiasaan mereka, salah satunya gemar minuman yang telah disebutkan. Minimal bir yang hampir seperti air putih saja bagi mereka.

Tentu mereka ingin minuman kegemaran mereka itu disediakan. Apalagi formula E sama seperti formula1 yaitu sebagai pemicu stres no. 1. Jelas butuh pelega. Penawar stres.

Mau tidak mau minuman tersebut harus disediakan, terutama di tempat-tempat yang para bule ini sering beredar di situ. Bisa di hotel tempat menginap, sekitar lintasan balap, atau tempat-tempat mereka lagi bersantai.

Harus ada aturan hukum untuk mengatur peredaran miras ini. Jangan sampai tersebar tidak terkendali sehingga malah bisa dinikmati siapa saja.

Lalu apakah manfaat yang bisa dihadirkan Formula E? Entahlah. Hanya mereka yang berkepentingan langsung harusnya bisa menjelaskan.

Tetapi jika kita berpikir sebagai orang awam, keuntungan dari penyelenggaraan Formula E adalah datangnya penonton.

Para penonton akan membeli tiket. Ini menjadi pemasukan. Dari penonton juga penyelenggara formula E berharap mendapat pemasukan tambahan.

Pemasukan tambahan itu antara lain pembelian cindera mata formula E seperti baju, pin, topi, jaket (termasuk Hoodie), kemeja. Ini sebenarnya mengambil contoh dari @f1 dan @MotoGP.

Selain itu pemasukan juga bisa diperoleh dengan menyediakan kebutuhan penonton selama menyaksikan formula E. Apa saja yang mereka butuhkan.

Paling sederhana adalah urusan makan dan minum. Lalu selain cindera mata tadi, juga mengadakan kuis seperti jumpa idola dengan bayar sekian. Atau ikut games bareng pembalap idola. Tergantung EO Formula E juga.

Tetapi pertanyaannya kemudian siapa yang mau nonton? Orang Indonesia sendiri? Warga Jakarta sendiri? Bagaimana bisa?

Sepopuler apa formula E dibanding formula1 dan MotoGP?

Sebagai contoh formula1. Olahraga balap ini sama sekali tidak populer di Indonesia. Tapi berkat hadirnya Rio Haryanto, masyarakat jadi antusias. TV nasional pun turut menyiarkan langsung.

MotoGP mungkin tidak melibatkan pembalap asli Indonesia tapi publik Indonesia merasa ada ikatan dengan setiap pembalap yang berlaga di MotoGP.

Nah bagaimana dengan formula E? Tak ada pembalap lokal Indonesia turut berkompetisi di sini. Publik Indonesia pun tak memiliki ikatan emosional. Jadi siapa penonton yang akan hadir?